
Bicaraplus – Film terbaru Joko Anwar berjudul Ghost in the Cell sukses menjadi sorotan dunia setelah penayangan perdananya di Berlinale 2026. Mengusung genre horor komedi dengan sentuhan kritik sosial yang kuat, film ini tak hanya menghibur, tetapi juga menghadirkan refleksi mendalam tentang realitas yang dihadapi masyarakat.
Di balik kesuksesan tersebut, Joko Anwar mengungkap fakta mengejutkan. Ia mengaku sempat diliputi kekhawatiran besar sebelum film ini diputar secara global. Pasalnya, humor yang diangkat dalam film ini sangat kental dengan nuansa Indonesia.
“Awalnya kami sangat khawatir karena joke-nya sangat Indonesia. Kami berpikir, bagaimana kalau tidak relatable untuk penonton global,” ujarnya.
Kekhawatiran itu semakin besar ketika melihat beragam latar belakang penonton yang hadir di Berlinale, mulai dari anak muda hingga pasangan usia lanjut. Namun, hasil yang terjadi justru di luar dugaan.
“Dari awal sampai akhir, satu gedung tertawa. Bahkan beberapa dialog yang menurut kita tidak terlalu lucu, justru mereka anggap sangat lucu,” ungkapnya.
Menurut Joko, respons tersebut menunjukkan bahwa humor bisa diterima dengan cara yang berbeda oleh setiap budaya. Bahkan, pendekatan komedi sarkas yang digunakan dalam film ini justru terasa dekat bagi penonton internasional.
Pengalaman tersebut memperkuat keyakinannya bahwa keaslian adalah kunci utama dalam menciptakan karya yang mampu menembus batas global.
“Authenticity itu bisa ‘travel’. Ketika kita membuat cerita yang benar-benar Indonesia, justru itu yang membuatnya terasa universal dan menarik untuk penonton dunia,” tegasnya.
Lebih jauh, Joko menekankan bahwa Ghost in the Cell bukan sekadar film hiburan, melainkan representasi dari keresahan kolektif masyarakat saat ini.
“Kami tidak ingin film ini menjadi sesuatu yang self-centered. Ini adalah kemuakan kolektif. Apa yang kita lihat setiap hari di media sosial sudah cukup membuat kita jengah,” jelasnya.
Ia menambahkan, berbagai isu sosial yang terus muncul di ruang publik, termasuk pemberitaan yang berulang dan memicu kejenuhan, menjadi inspirasi utama dalam membangun cerita film ini.
Secara cerita, Ghost in the Cell berlatar di sebuah lembaga pemasyarakatan yang penuh ketidakadilan. Kehidupan para narapidana berubah drastis ketika muncul teror misterius berupa sosok “hantu” yang membunuh berdasarkan aura negatif seseorang. Dalam kondisi tersebut, para napi dipaksa untuk berubah dan berlomba-lomba berbuat baik demi bertahan hidup.
Film ini diperkuat oleh jajaran aktor papan atas seperti Abimana Aryasatya, Tora Sudiro, Rio Dewanto, Morgan Oey, Aming Sugandhi, hingga Lukman Sardi, serta didukung aktor Asia Tenggara seperti Bront Palarae.
Abimana Aryasatya yang memerankan karakter Anggoro mengungkapkan bahwa film ini menghadirkan tantangan tersendiri dalam hal akting. Ia menyebut setiap adegan memiliki ritme atau “beat” yang kompleks.
“Dalam satu adegan, emosi bisa berubah dari serius ke aksi, lalu ke drama. Semua punya tempo masing-masing. Kalau tidak dipahami dengan baik, hasilnya tidak akan maksimal,” ujar Abimana.
Diproduksi oleh Come and See Pictures bersama Tia Hasibuan, Ghost in the Cell juga mencatat pencapaian penting dengan penjualan hak distribusi ke 86 negara. Hal ini menjadi bukti bahwa film Indonesia dengan identitas lokal yang kuat mampu bersaing di panggung global.
Dengan perpaduan horor, komedi, dan kritik sosial yang relevan, Ghost in the Cell menjadi salah satu film paling dinantikan tahun ini. Film ini dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia mulai 16 April 2026 dan siap menghadirkan pengalaman menonton yang tidak hanya menghibur, tetapi juga menggugah kesadaran.





