Garuda Indonesia dan Eiger Sulap Material Bekas Kabin Pesawat Jadi Tas Upcycle Bernilai

Garuda Indonesia dan Eiger Sulap Material Bekas Jadi Tas Upcycle

BicaraPlus – Material bekas kabin pesawat kini memiliki kehidupan baru melalui produk tas hasil kreativitas industri lokal. Dalam unggahan media sosial yang beredar, kolaborasi Garuda Indonesia dan Eiger Adventure diperkenalkan melalui pemanfaatan material bekas, mulai dari kain jok kursi hingga material rompi pelampung pesawat, menjadi tas fungsional bernilai tambah.

Eiger sebagai pionir industri perlengkapan luar ruang (outdoor gear) di Indonesia, khususnya untuk petualangan di iklim tropis (Tropical Adventure) Eiger terus mengembangkan inovasi produk. Upaya pemanfaatan kembali material ini memperlihatkan peluang untuk menggabungkan kreativitas, nilai guna, dan kepedulian terhadap lingkungan.

Cerita mengenai tas tersebut menarik perhatian warganet setelah akun Threads @wargadesil_10 membagikan pengalamannya mendapatkan sebuah tas saat melakukan penerbangan Garuda Indonesia dari Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta, menuju Bandara Kualanamu, Medan.

Dalam unggahannya, pengguna tersebut mengapresiasi kreativitas di balik produk yang memanfaatkan material bekas kabin pesawat. Tas itu tidak hanya memiliki fungsi praktis, tetapi juga membawa cerita tentang pemanfaatan kembali material yang sebelumnya menjadi bagian dari pengalaman penerbangan.

Upcycling, Cara Baru Memperpanjang Usia Material

WhatsApp Image 2026 10 20 at 12.12.37 AM 1 edited

Material yang dimanfaatkan dalam kolaborasi ini meliputi kain jok kursi kelas ekonomi dan bisnis serta material rompi pelampung atau life vest. Material tersebut diolah menjadi beragam produk, mulai dari handbag hingga tas perlengkapan mandi atau toiletries bag. Proses pembuatannya melibatkan penjahit Eiger di Bandung.

Eiger melalui proses desain dan penjahitan, material yang sebelumnya tidak lagi digunakan memperoleh fungsi baru. Karakter kain dan bahan yang berbeda juga memberikan identitas tersendiri pada produk yang dihasilkan. Inisiatif ini memperlihatkan bagaimana material bekas dapat menjadi sumber inspirasi untuk menciptakan produk baru yang memiliki nilai guna sekaligus daya tarik tersendiri.

Pemanfaatan material bekas kabin pesawat berkaitan dengan konsep upcycling, yaitu mengolah barang atau material yang sudah tidak digunakan menjadi produk baru dengan fungsi atau nilai tambah. Berbeda dari proses daur ulang yang umumnya mengubah material menjadi bahan baku untuk diproses kembali, upcycling berupaya memanfaatkan karakter material yang tersedia sebagai bagian dari produk baru.

Dalam industri penerbangan, pendekatan ini membuka peluang untuk memperpanjang masa guna material interior pesawat yang sudah tidak digunakan, selama memenuhi persyaratan pengolahan, kebersihan, dan keamanan.

Konsep tersebut juga berkaitan dengan ekonomi sirkular, yakni upaya mempertahankan nilai material selama mungkin, mengurangi kebutuhan bahan baku baru, dan menekan timbulan limbah.

Garuda Indonesia sebelumnya juga melaporkan inisiatif pemanfaatan sarung kursi bekas kabin menjadi amenity pouch. Dalam Laporan Keberlanjutan 2024, perusahaan mencatat sebanyak 300 sarung kursi diolah menjadi 1.200 pouch melalui kerja sama dengan mitra lokal dan melibatkan pengrajin dari komunitas pengungsi.

Program tersebut merupakan inisiatif tersendiri dan menjadi contoh bagaimana pemanfaatan kembali material penerbangan dapat dikaitkan dengan pemberdayaan ekonomi serta keterlibatan komunitas.

Membuka Peluang bagi Industri Kreatif Lokal

Eiger memanfaatkan material bekas menjadi produk baru menunjukkan bahwa inovasi tidak selalu harus dimulai dari penggunaan bahan baku baru. Material yang sudah tersedia dapat dikembangkan menjadi produk bernilai melalui desain, keterampilan, dan proses produksi yang tepat.

Dalam prosesnya, material perlu melalui pemilahan, pemeriksaan kondisi, pemotongan, hingga penjahitan agar dapat digunakan sesuai fungsi produk. Keterlibatan penjahit lokal Eiger juga memperlihatkan hubungan antara inovasi produk, keterampilan tenaga kerja, dan industri kreatif.

Bagi pelaku usaha kreatif, pendekatan ini dapat menjadi inspirasi untuk mengembangkan produk dengan identitas yang kuat, terutama melalui pemanfaatan material yang memiliki asal-usul dan cerita tersendiri.

Meski demikian, manfaat lingkungan dari produk upcycle perlu dinilai secara menyeluruh, termasuk ketahanan produk, proses pengolahan, penggunaan material tambahan, dan potensi pengurangan limbah. Transparansi mengenai asal material serta proses produksinya juga penting agar komitmen keberlanjutan diwujudkan melalui praktik yang nyata.

Bukan Sekadar Tas, tetapi Cerita di Balik Materialnya

Daya tarik tas hasil pemanfaatan kembali material pesawat tidak hanya terletak pada bentuk dan fungsinya. Produk tersebut juga membawa cerita tentang perjalanan material yang sebelumnya menjadi bagian dari pengalaman penerbangan.

Bagi sebagian pengguna, tas semacam ini dapat menjadi aksesori untuk aktivitas sehari-hari. Sementara itu, bagi pencinta penerbangan, produk dengan asal-usul material yang jelas berpotensi memiliki daya tarik sebagai barang koleksi.

Namun, informasi mengenai jumlah produksi, harga, dan ketersediaan produk perlu dikonfirmasi kepada pihak terkait sebelum dijadikan acuan bagi calon pembeli.

Kolaborasi Garuda Indonesia dan Eiger memperlihatkan peluang pertemuan antara industri penerbangan, industri perlengkapan petualangan, dan ekonomi kreatif dalam mengembangkan produk yang tidak hanya fungsional, tetapi juga memiliki cerita dan nilai tambah.

Pada akhirnya, material yang tidak lagi digunakan tidak selalu harus kehilangan nilainya. Melalui kreativitas dan pengolahan yang tepat, material tersebut berpotensi memperoleh fungsi baru sekaligus membuka peluang bagi inovasi industri kreatif Indonesia.

Bagikan