
BicaraPlus – Tidak semua luka terlihat. Sebagian justru muncul melalui cara seseorang bersikap, mengambil keputusan, atau membangun hubungan dengan orang lain. Gagasan inilah yang menjadi salah satu lapisan menarik dalam Hasut, film terbaru Tuta Films yang mulai tayang di bioskop Indonesia pada Kamis, 8 Oktober 2026.
Ditulis dan disutradarai Ilya Sigma, Hasut membawa empat orang ke tengah hutan untuk menjalani sebuah proses penyembuhan. Namun, perjalanan yang semula diharapkan menjadi ruang untuk berdamai dengan masa lalu justru berkembang menjadi situasi penuh kecurigaan. Sebuah suara dari HT mulai mengusik mereka.
Dari sana, rasa percaya perlahan runtuh. Masing-masing mulai mempertanyakan orang di sekitarnya, sementara ketakutan dan persoalan yang selama ini disimpan kembali muncul. Di titik inilah Hasut tidak hanya bermain dengan misteri, tetapi mulai membawa penonton masuk ke persoalan yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari: bagaimana seseorang menghadapi trauma dan bagaimana orang lain merespons luka tersebut.
Ketika Orang yang Ingin Membantu Justru Terlalu Jauh
Salah satu konflik utama dalam Hasut terlihat melalui hubungan Vira dan Rere, kakak-adik yang sama-sama membawa luka akibat kematian orangtua. Keduanya memilih jalan yang berbeda. Vira berusaha menghadapi pengalaman masa lalunya melalui berbagai proses penyembuhan hingga kemudian menjadi seorang healer. Rere mengambil jalan sebaliknya. Ia cenderung menghindari dan menyangkal trauma yang pernah dialaminya.
Perbedaan tersebut kemudian menjadi persoalan. Vira ingin Rere ikut menjalani proses penyembuhan yang menurutnya dapat membantu. Namun, keinginan tersebut perlahan bergeser menjadi dorongan untuk menentukan apa yang seharusnya dilakukan Rere.
Di sinilah film mulai menyentuh persoalan yang lebih kompleks. Niat baik tidak selalu menghasilkan sesuatu yang baik ketika seseorang kehilangan ruang untuk menentukan pilihannya sendiri. Persoalan tersebut menjadi semakin menarik karena dalam kehidupan nyata, orang yang mengalami masalah kesehatan mental sering kali ditempatkan sebagai pihak yang harus “diselamatkan”, sementara suara dan keputusan mereka sendiri justru tidak selalu menjadi pusat perhatian.
Rere dan Bahaya Menilai Seseorang dari Permukaan
Karakter Rere yang diperankan Rachel Amanda juga memberikan perspektif berbeda mengenai bagaimana perilaku seseorang seharusnya dibaca. Rere mudah dilihat sebagai sosok pembuat masalah. Namun, perilaku tersebut memiliki latar belakang berupa kehilangan dan proses berduka yang belum selesai.
Rachel Amanda mengatakan karakter Rere memiliki mekanisme bertahan setelah kehilangan orangtuanya. “Rere ini kan digambarkan sebagai perempuan troublemaker, padahal itu coping mechanism-nya ketika dia memiliki luka ditinggal orangtua,” ujar Rachel Amanda.
Pernyataan tersebut menjadi penting karena film ini mengingatkan bahwa perilaku yang terlihat di permukaan belum tentu menggambarkan keseluruhan cerita seseorang. Seseorang yang terlihat sulit dihadapi bisa saja sedang berusaha bertahan dengan caranya sendiri. Persoalannya, orang lain sering kali lebih cepat memberikan label dibandingkan mencoba memahami alasan di balik perilaku tersebut.
Batas Tipis antara Menolong dan Mengontrol
Di balik cerita misterinya, Hasut menyimpan pertanyaan yang cukup relevan dalam hubungan antarmanusia: kapan keinginan untuk membantu seseorang mulai berubah menjadi tindakan mengontrol? Ilya Sigma sengaja membawa persoalan tersebut ke dalam perjalanan karakter-karakternya.
“Di film ini saya juga ingin mengajak untuk berefleksi, bertanya mengenai bagaimana jika keinginan untuk menyelamatkan bisa berubah menjadi alat untuk memanipulasi dan mengontrol?” kata Ilya Sigma. Gagasan tersebut membuat konflik dalam Hasut tidak berhenti pada persoalan siapa yang benar dan siapa yang salah.
Film justru membuka ruang untuk melihat bahwa seseorang dapat memiliki niat baik sekaligus melakukan tindakan yang keliru. Dalam konteks kesehatan mental, membantu seseorang juga membutuhkan kemampuan untuk mendengarkan dan menghormati batas pribadi. Keputusan untuk menjalani proses pemulihan tidak semestinya lahir dari tekanan orang lain.
Hutan sebagai Ruang untuk Membongkar Luka
Pemilihan hutan sebagai lokasi utama juga memperkuat atmosfer film. Alih-alih menjadi sekadar latar, hutan menjadi ruang yang membuat keempat karakter semakin terisolasi dari dunia luar. Ketika akses terhadap lingkungan yang familiar menghilang, rasa aman mereka ikut terganggu.
Suara dari HT kemudian menjadi pemicu yang membuat situasi semakin tidak stabil. Yang awalnya hanya sebuah suara berubah menjadi sumber kecurigaan. Ketika kepercayaan mulai hilang, setiap percakapan dapat ditafsirkan berbeda. Pada akhirnya, ancaman terbesar bukan hanya sesuatu yang berada di luar diri mereka, tetapi juga ketakutan yang selama ini mereka bawa.
Tayang Menjelang Hari Kesehatan Mental Sedunia
Hasut hadir hanya dua hari sebelum Hari Kesehatan Mental Sedunia atau World Mental Health Day, yang diperingati setiap 10 Oktober. Momentum tersebut membuat tema film terasa semakin relevan.
Namun, film ini tidak menawarkan kesehatan mental sebagai sesuatu yang sederhana. Tidak ada satu cara yang berlaku untuk semua orang ketika berhadapan dengan kehilangan dan trauma. Ada orang yang memilih mencari bantuan. Ada yang berusaha membicarakan pengalaman masa lalu. Ada pula yang membutuhkan waktu sebelum siap menghadapinya.
Karena itu, pengalaman seseorang perlu didengarkan tanpa buru-buru diberi label. Dalam konteks tersebut, Hasut dapat dibaca bukan hanya sebagai cerita mengenai empat orang di dalam hutan, tetapi juga sebagai refleksi tentang bagaimana manusia memperlakukan orang lain yang sedang membawa luka.
Bukan Sekadar Tentang Siapa yang Bisa Dipercaya
Konflik dalam Hasut memang dibangun melalui pertanyaan mengenai siapa yang dapat dipercaya. Namun, semakin jauh cerita bergerak, persoalannya menjadi lebih luas. Film ini mempertemukan trauma, kehilangan, rasa takut, proses penyembuhan, dan hubungan antarmanusia dalam satu perjalanan yang penuh ketegangan.
Keempat karakter—Vira yang diperankan Karina Salim, Rere oleh Rachel Amanda, Dharma oleh Marthino Lio, dan Derry oleh Kevin Ardilova—menjadi bagian dari perjalanan tersebut.
Bagi penonton, pengalaman menonton Hasut tidak berhenti ketika misteri di dalam hutan terungkap. Ada persoalan lain yang justru layak dibawa pulang: bagaimana kita mendengarkan orang yang sedang terluka, bagaimana kita memahami perilaku yang tidak kita mengerti, dan bagaimana membedakan antara membantu seseorang dengan mengambil alih hidupnya.
Hasut tayang di bioskop Indonesia mulai 8 Oktober 2026. Film ini dapat menjadi pilihan bagi penonton yang menyukai cerita misteri sekaligus ingin melihat isu trauma dan kesehatan mental melalui pendekatan drama psikologis.





