Film “Esok Tanpa Ibu” Mengungkap Sisi Keluarga yang Jarang Disorot

WhatsApp Image 2026 01 19 at 20.58.56 1 edited

Bicaraplus – Film “Esok Tanpa Ibu” hadir sebagai karya yang menawarkan refleksi mendalam tentang keluarga, kehilangan, dan relasi manusia di tengah perkembangan teknologi. Bukan sekadar drama keluarga, film ini mengangkat isu yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari yaitu komunikasi orang tua dan anak, peran ibu dalam keluarga, serta kehadiran teknologi khususnya kecerdasan buatan (AI) yang perlahan menjadi bagian dari kehidupan rumah tangga.

Diproduksi oleh BASE Entertainment dan Beacon Films, Esok Tanpa Ibu merupakan hasil kolaborasi lintas negara di kawasan Asia Tenggara. Film ini melibatkan kreator dari Indonesia, Singapura, Jepang, hingga Malaysia, termasuk penggunaan teknologi virtual production dalam proses pengambilan gambar. Sutradara Ho Wi-ding asal Malaysia dipercaya mengarahkan film ini, sementara naskah ditulis oleh Gina S. Noer dan Diva Apresya.

Dalam konferensi pers, para pembuat film menjelaskan bahwa Esok Tanpa Ibu berangkat dari dua elemen yang sangat dekat dengan kehidupan modern yaitu antara keluarga dan teknologi. Teknologi, yang kini tak terpisahkan dari keseharian manusia, digambarkan bukan hanya sebagai alat, tetapi juga sebagai “anggota keluarga” yang kerap mengambil porsi perhatian lebih besar dibandingkan relasi antarmanusia itu sendiri.

WhatsApp Image 2026 01 19 at 20.59.20 1

Film ini menyoroti bagaimana kecanggihan teknologi, termasuk AI, dapat menjadi penopang sekaligus tantangan dalam membangun kedekatan emosional di dalam keluarga. Di sisi lain, film ini juga menegaskan pentingnya kehadiran, empati, dan komunikasi terutama dalam relasi orang tua dan anak yang memasuki fase remaja.

Deretan pemain utama turut memperkuat narasi film ini. Dian Sastrowardoyo tampil sebagai ibu sekaligus produser, menghadirkan sosok ibu dengan lapisan emosi yang kompleks dan membumi. Ali Fikry memerankan Chimot, anak remaja yang mengalami dinamika emosional dalam keluarganya. Ringgo Agus Rahman berperan sebagai ayah dengan karakter yang merepresentasikan banyak figur bapak di kehidupan nyata bekerja keras, namun kerap kesulitan mengekspresikan perasaan. Sementara itu, Aisha Nurra Datau memerankan sahabat Chimot yang berlatar dunia teknologi, dan Bima Sena melengkapi jajaran pemeran utama.

Menariknya, film ini tidak hanya berbicara tentang relasi ibu dan anak, tetapi juga menyinggung hubungan suami-istri serta peran ayah dalam keluarga. Beberapa isu yang diangkat terasa sangat relevan, seperti beban emosional ibu, ketergantungan keluarga pada satu figur, hingga pentingnya keterlibatan ayah dalam proses tumbuh kembang anak.

Para pembuat film berharap Esok Tanpa Ibu dapat menjadi ruang refleksi bagi penonton baik sebagai orang tua, anak, maupun anggota keluarga tentang arti kehadiran, kehilangan, dan harapan. Film ini tidak menawarkan jawaban instan, tetapi mengajak penonton pulang dari bioskop dengan pikiran dan perasaan yang terus bekerja, memikirkan apa yang bisa diterapkan dalam kehidupan nyata.

Dengan tema yang dekat, pendekatan emosional yang jujur, serta kolaborasi internasional yang solid, “Esok Tanpa Ibu” menjadi salah satu film Indonesia yang layak dinantikan di tahun 2026.

Bagikan