Festival Bandeng Rawa Belong 2026: Harmoni Budaya, Penggerak Ekonomi Rakyat Jakarta

Polyworking 13

Bicaraplus – Festival Bandeng Rawa Belong 2026 kembali menegaskan posisinya sebagai simbol harmoni budaya Betawi dan Tionghoa di Jakarta. Tradisi tahunan yang digelar di kawasan Pasar Bandeng Rawa Belong, Jakarta Barat, ini tidak hanya menjadi agenda budaya, tetapi juga ruang penguatan ekonomi rakyat menjelang Tahun Baru Imlek.

Festival yang dibuka langsung oleh Gubernur DKI Jakarta pada Sabtu (14/2/2026) mengangkat tema Harmoni Tradisi Betawi dan Tionghoa Menuju Jakarta Kota Global yang Berbudaya. Rangkaian kegiatan diisi dengan pertunjukan budaya Betawi, partisipasi ratusan pedagang bandeng, serta pelibatan pelaku UMKM lokal.

Anggota DPD RI/MPR RI Dapil DKI Jakarta, Achmad Azran atau yang dikenal sebagai Bang Azran, menegaskan bahwa Festival Bandeng Rawa Belong bukan sekadar agenda seremonial, tetapi bagian dari perjalanan sejarah akulturasi budaya di ibu kota. Menurutnya, tradisi nganter bandeng telah hidup secara turun-temurun di tengah masyarakat Betawi sebagai simbol penghormatan, kekeluargaan, dan persaudaraan, khususnya menjelang perayaan Imlek.

WhatsApp Image 2026 02 15 at 15.25.31 edited

Ia menjelaskan, kawasan Rawa Belong sejak lama dikenal sebagai pusat penjualan bandeng setiap menjelang Tahun Baru Imlek. Tradisi ini tumbuh dari kebiasaan masyarakat Betawi yang mengantarkan bandeng kepada keluarga maupun tokoh yang dihormati sebagai bentuk silaturahmi dan doa keberkahan.

Festival yang awalnya lahir dari tradisi masyarakat ini kemudian dikembangkan pemerintah sebagai bagian dari pelestarian budaya lokal sekaligus penguatan identitas Jakarta sebagai kota global yang tetap berakar pada budaya.

Momentum Imlek, menurut Bang Azran, menjadi ruang strategis untuk memperkuat nilai perdamaian dan kebersamaan. Harmoni antara masyarakat Betawi dan Tionghoa dinilai sebagai kekuatan sosial Jakarta yang harus terus dijaga dan diwariskan ke generasi berikutnya.

Selain nilai budaya, Festival Bandeng Rawa Belong juga memiliki dampak ekonomi yang signifikan. Keterlibatan ratusan pedagang bandeng serta pelaku UMKM lokal menunjukkan bahwa tradisi mampu menjadi motor penggerak ekonomi masyarakat.

Peningkatan transaksi penjualan bandeng, kuliner khas, serta produk UMKM selama festival menjadi bukti nyata bahwa pelestarian budaya dapat berjalan selaras dengan penguatan ekonomi kerakyatan.

Festival tahun ini berlangsung meriah dengan berbagai pertunjukan seni tradisional Betawi, mulai dari musik gambang kromong, atraksi palang pintu, hingga parade budaya yang menjadi daya tarik utama masyarakat. Antusiasme warga terlihat sejak pagi hari, memenuhi area Pasar Bandeng Rawa Belong untuk menyaksikan pertunjukan sekaligus berbelanja.

Tradisi nganter bandeng kembali menjadi sorotan utama. Momen tersebut memperlihatkan eratnya hubungan sosial dan budaya antara masyarakat Betawi dan Tionghoa di Jakarta, sekaligus menjadi simbol persatuan dalam keberagaman.

Bang Azran juga menyampaikan ucapan selamat Tahun Baru Imlek kepada masyarakat yang merayakan, seraya berharap semangat kebersamaan lintas budaya terus terjaga.

Ia menekankan bahwa Jakarta harus tetap menjadi rumah besar yang damai bagi seluruh budaya dan masyarakatnya.

Bagikan