Ferry Irwandi Ungkap Orkestrasi Politik di Balik Kerusuhan Demo Jakarta 2025

Untitled design 17 1

Gelombang aksi demonstrasi sejak 25 hingga 30 Agustus 2025 di Jakarta menyisakan tanda tanya besar. Bukan hanya soal siapa yang memulai, tetapi juga siapa yang sebenarnya mengendalikan jalannya kerusuhan.

Influencer sekaligus aktivis media sosial, Ferry Irwandi, dalam akun Instagramnya @irwaniferry, membeberkan dugaan adanya pihak terorganisir yang menjadi dalang di balik rentetan aksi anarkis. Menurutnya, pola digital yang muncul sejak sebelum tanggal 25 Agustus patut dicurigai sebagai orkestrasi politik yang rapi.

“Dalang kerusuhan bisa dilacak dari siapa yang memberi kerja akun-akun ini. Jika pihak keamanan serius mencari sumber, maka penyelidikan harus dimulai dari sana,” kata Ferry.

Untitled design 18 1

Jejak Digital: Akun Pro-Pemerintah yang Provokatif

Ferry menyebut ada kesamaan mencolok pada sejumlah akun di platform X maupun TikTok: membela pemerintah secara berlebihan, tak segan menyebar fitnah, hingga melancarkan tuduhan terhadap lawan politik.

“Ribuan komentar menunjukkan pola sama. Mereka menghasut publik jauh sebelum aksi turun ke jalan dimulai. Kalau ditelusuri lebih dalam, jumlahnya bisa lebih banyak lagi,” ujarnya.

Pertanyaan besar pun muncul: mengapa akun-akun tersebut justru memprovokasi rakyat untuk protes? Ferry menantang Presiden Prabowo dan aparat intelijen untuk mencari tahu.

Untitled design 19 1

Dari Provokasi Digital ke Kerusuhan Fisik

Menurut Ferry, agitasi digital itu menjadi pemicu nyata di lapangan. “Pola penyebaran narasi terlalu seragam untuk disebut spontan. Begitu gampang dilacak dan ditemukan tuannya,” tegasnya.

Ia juga menyoroti aksi pembakaran halte Transjakarta. Sebagai peneliti lapangan, Ferry menilai ada indikasi penggunaan bahan kimia pemicu kebakaran.

“Halte modern terbuat dari baja, aluminium, dan kaca—material non-combustible. Api seharusnya padam sendiri tanpa bahan tambahan. Tapi saya lihat langsung Halte Senen terbakar setelah gas air mata ditembakkan. Api itu jelas bukan spontan,” ungkapnya.

Kelompok Terorganisir dan ‘Bersenjata’

Lebih jauh, Ferry menduga keberadaan kelompok terorganisir yang tidak hanya memprovokasi, tetapi juga “bersenjata”—bukan dalam arti senjata api, melainkan membawa bahan pemicu kerusuhan.

“Ini bukan sekadar massa emosional. Ada yang mengatur, ada yang membiayai, ada yang memfasilitasi,” katanya.

Peringatan untuk Masyarakat

Di tengah situasi memanas, Ferry mengingatkan publik agar tidak menjadi pion dalam permainan politik kotor.

“Perjuangan ini bukan sekadar rakyat versus pemerintah, melainkan melawan bagian dari pemerintah yang ingin memperluas kuasa. Gunakan otak, gunakan teknologi, jangan mudah diprovokasi,” tegasnya.

Tuntutan Investigasi Independen

Pernyataan Ferry mempertegas dugaan bahwa kerusuhan Jakarta bukanlah luapan spontan rakyat, melainkan intrik politik dengan orkestrasi sistematis.

Investigasi independen dan keterbukaan informasi publik dinilai krusial untuk mengungkap kebenaran di balik pembakaran halte, serangan ke kantor polisi, hingga jatuhnya korban jiwa.

“Jangan tuduh kami sebagai provokator. Semua darah yang tumpah, kelompok kalianlah yang paling bertanggung jawab,” pungkas Ferry.

Bagikan