Esok Tanpa Ibu, Merawat Rindu di Tengah Teknologi: Ketika AI Tak Pernah Benar-Benar Menggantikan Ibu

ARM1289

Bicaraplus – Kehilangan adalah ruang sunyi yang tak selalu mampu diisi oleh kata-kata. Dalam Esok Tanpa Ibu (Mothernet), film terbaru produksi BASE Entertainment, Beacon Film, dan Refinery Media, menyuguhkan fenomena kehilangan dari sudut yang dekat dengan keseharian manusia modern yaitu teknologi.

Melalui perilisan official trailer dan poster, Esok Tanpa Ibu memperkenalkan kisah keluarga kecil yang berhadapan dengan duka, jarak emosional, dan upaya bertahan. Cerita berpusat pada Rama atau Cimot (Ali Fikry), remaja yang memiliki ikatan erat dengan sang ibu (Dian Sastrowardoyo), namun menyimpan kecanggungan relasi dengan ayahnya (Ringgo Agus Rahman).

Kehidupan keluarga itu berubah drastis ketika sang ibu mengalami koma. Sosok yang selama ini menjadi tempat berlindung, mendengar, dan memahami, tiba-tiba menghilang dari keseharian. Cimot kehilangan pegangan, sementara ayahnya memproses duka dengan cara yang tak selalu sejalan dengan kebutuhan anak remajanya. Jarak yang semula ada, perlahan menjelma konflik.

Di tengah kekosongan tersebut, hadir sebuah kecerdasan buatan yang membuat sosok Ibu “kembali” melalui suara, wajah, dan respons yang menyerupai manusia. Bukan sebagai keajaiban, melainkan sebagai upaya manusia bertahan dari kehilangan. Film ini tidak memposisikan AI sebagai penyelamat, tetapi sebagai cermin kegamangan: sejauh mana teknologi boleh masuk ke wilayah paling personal manusia?

ARM1311

Nuansa emosional trailer diperkuat oleh lagu Jernih dari Kunto Aji serta Raih Tanahmu dari hara & Nosstres. Keduanya memberi ruang bagi penonton untuk merenung tentang rindu yang tak selesai, dan tentang kebutuhan untuk tetap melangkah, meski perlahan.

Poster resmi film ini menampilkan Dian Sastrowardoyo, Ali Fikry, dan Ringgo Agus Rahman berbaring di taman bunga putih, dibingkai menyerupai layar gawai. Sebuah visual yang sederhana namun sarat makna, merepresentasikan pertemuan antara kasih yang tumbuh secara manusiawi dan imitasi digital yang mencoba mendekat.

Disutradarai Ho Wi-ding, dengan naskah karya Gina S. Noer, Diva Apresya, dan Melarissa Sjarief, Esok Tanpa Ibu lahir dari proses panjang dan reflektif. Produser Shanty Harmayn menyebut film ini berangkat dari percakapan personal tentang keluarga dan perubahan cara manusia berelasi di era teknologi. Sebuah cerita yang terus berevolusi hingga menemukan bentuknya hari ini.

Bagi Dian Sastrowardoyo, yang turut menjadi produser dan memerankan sosok ibu, film ini adalah pengingat bahwa peran ibu tak tergantikan. Ibu, baginya, selalu menghadirkan rasa aman dan memberikan ruang untuk kita dimengerti, sesuatu yang tak bisa sepenuhnya direplikasi, bahkan oleh teknologi paling canggih sekalipun.

Ringgo Agus Rahman melihat film ini sebagai ruang refleksi tentang dua bentuk anak yang kehilangan ibu, dan suami yang kehilangan pasangan hidup. Keduanya harus belajar kembali berkomunikasi, memahami, dan tumbuh bersama di tengah duka.

Dijadwalkan tayang mulai 22 Januari 2026 di bioskop Indonesia, Esok Tanpa Ibu hadir sebagai drama keluarga yang lembut namun relevan. Sebuah pengingat bahwa di tengah kemajuan teknologi, kerinduan, cinta, dan kehadiran manusia tetap menjadi inti yang tak tergantikan.

Bagikan