Di Tengah Krisis Global, Indonesia Siapkan Jutaan Peluang Kerja dari Energi Hijau

15

Bicaraplus – Di tengah ketidakpastian ekonomi global yang dipicu dinamika geopolitik, volatilitas pasar keuangan, dan percepatan transisi menuju ekonomi rendah karbon, Indonesia justru memperkuat fondasi ekonominya melalui percepatan transformasi hijau dan penguatan ketahanan energi nasional. Strategi ini diproyeksikan menjadi motor pertumbuhan ekonomi baru sekaligus membuka peluang kerja dalam skala besar di masa depan.

Pemerintah menargetkan agenda ekonomi hijau mampu menciptakan hingga 4,4 juta lapangan kerja baru hingga 2029, seiring percepatan investasi energi terbarukan, hilirisasi industri hijau, serta penguatan kerja sama perdagangan dan investasi global.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan, Indonesia terus memperkuat kemitraan ekonomi strategis global, termasuk dengan Hong Kong. Nilai perdagangan bilateral Indonesia–Hong Kong tercatat sekitar USD6,5 miliar, sementara investasi Hong Kong di Indonesia telah mencapai sekitar USD10 miliar dalam beberapa tahun terakhir.

Implementasi Free Trade Agreement Hong Kong–ASEAN sejak 2020 turut memperkuat hubungan ekonomi, perdagangan, dan investasi kedua pihak. Hal tersebut disampaikan dalam forum China Conference: Southeast Asia 2026 di Jakarta, Selasa (10/2/2026).

Secara makro, ekonomi Indonesia tetap menunjukkan kinerja stabil. Pertumbuhan ekonomi triwulan IV 2025 tercatat 5,39% (year on year), sementara sepanjang 2025 mencapai 5,11%. Inflasi tetap terkendali pada level 3,55% (yoy) Januari 2026, sementara sektor industri manufaktur berada pada fase ekspansi dengan indeks PMI sebesar 52,6 selama enam bulan berturut-turut.

Dari sisi eksternal, Indonesia mencatat surplus neraca perdagangan sebesar USD2,51 miliar pada Desember 2025 dan mempertahankan tren surplus selama 68 bulan berturut-turut. Kinerja ekonomi tersebut turut mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat, ditandai dengan tingkat kemiskinan yang menurun menjadi 8,5%, rasio gini sebesar 0,375, Indeks Pembangunan Manusia meningkat menjadi 75,9, serta penciptaan sekitar 1,4 juta lapangan kerja sepanjang 2025.

Pemerintah juga terus memperkuat posisi Indonesia dalam perdagangan global melalui berbagai forum internasional seperti ASEAN, APEC, G20, dan COP. Berbagai perjanjian perdagangan strategis juga dipercepat, termasuk Indonesia–Canada CEPA, percepatan IEU–CEPA yang ditargetkan berlaku pada awal 2027, negosiasi tarif impor dengan Amerika Serikat, serta proses aksesi OECD untuk memperkuat reformasi struktural dan daya saing ekonomi nasional.

Transformasi energi menjadi salah satu prioritas nasional pada 2026 dengan alokasi anggaran ketahanan energi mencapai Rp402,4 triliun. Kebijakan ini diarahkan untuk mempercepat pengembangan energi terbarukan hingga 3.686 GW, pembangunan green supergrid, hilirisasi industri baterai kendaraan listrik dan panel surya, pengembangan bahan bakar nabati B40–B50, pengembangan sustainable aviation fuel (SAF), hidrogen, amonia hijau, serta penerapan teknologi penangkapan karbon CCS/CCUS.

Transformasi tersebut juga didukung pendanaan internasional melalui Just Energy Transition Partnership (JETP) serta kerja sama energi bersih melalui Asia Zero Emission Community (AZEC). Selain memperkuat ketahanan energi nasional, transformasi hijau diproyeksikan menjadi mesin pertumbuhan ekonomi baru yang mendorong penciptaan lapangan kerja melalui program pengembangan keterampilan dan pemagangan berkelanjutan.

Pemerintah menilai perjalanan menuju ekonomi Indo-Pasifik berkelanjutan dan target net-zero emission membutuhkan kolaborasi global. Sinergi antara kepemimpinan Indonesia dengan inovasi teknologi mitra kawasan diyakini menjadi faktor penting dalam memperkuat ketahanan ekonomi Asia Tenggara di masa depan.

Dengan stabilitas makroekonomi yang terjaga, percepatan transformasi hijau, serta penguatan kerja sama perdagangan internasional, Indonesia diproyeksikan terus memperkuat posisinya sebagai salah satu kekuatan ekonomi utama di kawasan sekaligus menjaga momentum pertumbuhan jangka panjang yang berkelanjutan.

Bagikan