Ekonomi Digital RI Tembus USD 100 Miliar, AI Jadi Mesin Baru Pertumbuhan

publikasi 1775634124 69d606cc0d789 2

BicaraPlus – Di tengah tekanan global dan ketidakpastian ekonomi dunia, Indonesia justru menunjukkan resiliensi yang kuat. Pertumbuhan ekonomi nasional pada triwulan IV-2025 mencapai 5,39% (year-on-year), mempertegas posisi Indonesia sebagai salah satu negara dengan performa solid di antara negara-negara G20.

Kekuatan utama pertumbuhan tersebut masih ditopang oleh konsumsi rumah tangga yang berkontribusi sebesar 53,63% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), dengan laju pertumbuhan 4,99%. Besarnya pasar domestik yang mencapai lebih dari 280 juta penduduk menjadi fondasi penting dalam mendorong akselerasi ekonomi, termasuk di sektor digital.

Menurut Airlangga Hartarto, transformasi digital dan kecerdasan buatan (AI) kini menjadi mesin pertumbuhan baru ekonomi nasional. Ia menyebut nilai ekonomi digital Indonesia telah mendekati USD 100 miliar angka yang menempatkan Indonesia sebagai salah satu kekuatan digital terbesar di kawasan Asia.

AI dan Transportasi Digital Dorong Ekosistem Baru

Perkembangan teknologi, khususnya AI, semakin memperkuat sektor jasa transportasi digital sebagai tulang punggung ekonomi baru. Hal ini terlihat dalam gelaran GrabX 2026 yang menghadirkan berbagai inovasi berbasis AI untuk meningkatkan efisiensi ekosistem, mulai dari pengemudi hingga pelaku UMKM.

Dalam acara tersebut, Anthony Tan dan Neneng Goenadi memperkenalkan solusi berbasis data yang memungkinkan pelaku usaha memahami tren pasar secara real-time.

Pemanfaatan AI ini dinilai mampu menciptakan level playing field yang lebih adil, terutama bagi UMKM agar dapat bersaing dengan ritel modern. Teknologi juga memungkinkan pelaku usaha mengoptimalkan strategi penjualan melalui analisis perilaku konsumen dan tren produk.

Indonesia Naik Kelas dalam Inovasi Global

Dari sisi inovasi, Indonesia menunjukkan kemajuan signifikan. Berdasarkan Global Innovation Index (GII) 2025, Indonesia naik ke peringkat 55 dari sebelumnya 85 pada tahun 2020. Saat ini, Indonesia juga memiliki sekitar 3.200 startup dan 7 unicorn yang bergerak di sektor strategis seperti fintech, e-commerce, hingga transportasi digital.

Momentum ini semakin diperkuat dengan meningkatnya adopsi aplikasi berbasis AI di Asia Tenggara, di mana Indonesia menjadi salah satu pasar paling potensial. Meski peluang terbuka lebar, transformasi digital juga membawa konsekuensi besar terhadap pasar tenaga kerja. Laporan World Economic Forum menyebutkan sekitar 22% jenis pekerjaan akan mengalami perubahan dalam beberapa tahun ke depan.

Hal ini menuntut kesiapan talenta digital yang adaptif dan inovatif. Pemerintah pun mulai mengantisipasi melalui berbagai program pelatihan, termasuk kolaborasi dengan Arm Holdings yang menargetkan pelatihan 15.000 talenta AI di Indonesia.

Menuju Integrasi Digital ASEAN

Di tingkat regional, Indonesia juga mengambil peran strategis dengan menginisiasi ASEAN Digital Economy Framework Agreement (DEFA). Kerangka ini diharapkan menjadi fondasi integrasi ekonomi digital kawasan dan akan ditargetkan untuk disepakati pada 2026.

Langkah ini menegaskan posisi Indonesia bukan hanya sebagai pasar, tetapi juga sebagai pemain kunci dalam ekosistem ekonomi digital Asia Tenggara. Pemerintah menekankan bahwa teknologi AI tidak boleh eksklusif hanya untuk platform besar, tetapi harus inklusif hingga ke level UMKM. Dengan pemanfaatan data instan mulai dari tren penjualan hingga profil pelanggan pelaku usaha dapat mengambil keputusan bisnis yang lebih tepat dan cepat.

Transformasi ini diharapkan mampu meningkatkan daya beli, produktivitas, serta membuka peluang usaha baru yang lebih luas dan berkelanjutan. Dengan kombinasi pasar domestik yang besar, adopsi teknologi yang cepat, serta dukungan kebijakan pemerintah, ekonomi digital Indonesia berada di jalur yang tepat untuk menjadi motor utama pertumbuhan nasional. Namun, kunci keberhasilannya terletak pada kesiapan talenta dan kemampuan adaptasi seluruh pelaku ekosistem.

Bagikan