
Bicaraplus – Work From Home (WFH) telah menjadi bagian dari pola kerja modern yang semakin diterima secara global. Fleksibilitas waktu, efisiensi mobilitas, hingga kenyamanan bekerja dari rumah membuat sistem ini menjadi pilihan banyak perusahaan dan profesional, khususnya di era digital.
Namun di balik kenyamanan Work From Home, tenaga medis mulai menyoroti potensi dampak kesehatan yang muncul, salah satunya adalah meningkatnya keluhan sakit kepala hingga migrain yang berkaitan dengan perubahan gaya hidup kerja.
Dalam beberapa tahun terakhir, dokter neurologi menemukan peningkatan kasus headache dan migraine yang dipicu oleh kebiasaan kerja jarak jauh. Peningkatan screen time, postur kerja yang kurang ergonomis, hingga tekanan psikologis akibat batas kerja yang semakin kabur menjadi faktor utama yang memicu kondisi tersebut.
Paparan layar digital dalam durasi panjang menjadi salah satu pemicu utama sakit kepala pada pekerja Work From Home. Aktivitas seperti meeting virtual, pekerjaan berbasis komputer, hingga konsumsi hiburan digital membuat mata dan otak bekerja tanpa jeda optimal.
Selain itu, banyak pekerja menjalani Work From Home tanpa fasilitas kerja ergonomis yang memadai. Bekerja dari sofa, kursi makan, atau posisi duduk statis dalam waktu lama dapat memicu ketegangan otot leher dan punggung, yang menjadi pemicu tension headache maupun migrain.
Tidak hanya faktor fisik, tekanan mental juga berperan besar. Work From Home sering membuat batas antara jam kerja dan waktu pribadi menjadi tidak jelas. Kurang tidur, stres kerja, hingga distraksi lingkungan rumah dapat memperburuk kondisi kesehatan saraf.
Secara medis, sakit kepala terbagi dalam beberapa jenis, dengan tension headache dan migraine sebagai dua yang paling umum terjadi. Tension headache biasanya terasa di kedua sisi kepala dengan intensitas ringan hingga sedang. Sementara migraine cenderung muncul di satu sisi kepala dan sering disertai mual, sensitivitas terhadap cahaya dan suara, serta dapat berlangsung berjam hingga beberapa hari.
Migrain juga diketahui lebih sering terjadi pada perempuan dan kelompok usia produktif, yang merupakan populasi dominan dalam sistem kerja digital saat ini.
Meski sebagian besar sakit kepala tidak berbahaya, tenaga medis mengingatkan masyarakat untuk tetap waspada terhadap tanda bahaya. Perubahan pola sakit kepala secara drastis, nyeri yang disertai kelemahan tubuh, gangguan bicara, hingga penurunan kesadaran memerlukan pemeriksaan medis lebih lanjut.
Dalam beberapa kondisi, dokter dapat merekomendasikan pemeriksaan tambahan seperti tes darah, pemeriksaan mata, MRI, atau CT Scan untuk memastikan tidak ada penyebab medis serius.
Kabar baiknya, migrain umumnya dapat dikontrol melalui kombinasi terapi medis dan perubahan gaya hidup. Penanganan medis biasanya meliputi terapi pencegahan untuk menurunkan frekuensi serangan, serta terapi yang dikonsumsi saat serangan muncul.
Di luar pengobatan, penyesuaian rutinitas harian terbukti memiliki peran penting. Istirahat dari layar secara berkala, menjaga postur kerja, mengatur pencahayaan ruangan, serta menjaga kualitas tidur dapat membantu mengurangi risiko sakit kepala akibat Work From Home.
Ke depan, Work From Home diperkirakan akan tetap menjadi bagian dari sistem kerja global. Para ahli menekankan bahwa produktivitas jangka panjang tidak hanya bergantung pada efisiensi kerja, tetapi juga pada kemampuan menjaga kesehatan fisik dan mental secara seimbang. Karena pada akhirnya, ruang kerja terbaik bukan hanya yang paling nyaman, tetapi juga yang paling sehat bagi tubuh.


