Demo Global Soroti Situasi Iran: Ratusan Ribu Orang Turun ke Jalan, Serukan Perubahan Politik

4752bf60 0a76 11f1 ac70 650e103cdf93.jpg

BicaraPlus – Gelombang protes terhadap pemerintah Iran kembali meluas ke panggung global. Ratusan ribu orang turun ke jalan di berbagai kota dunia pada Sabtu (waktu setempat), menyuarakan solidaritas terhadap demonstran di Iran sekaligus menekan perubahan politik di negara tersebut.

Aksi ini digelar setelah seruan “hari aksi global” disampaikan tokoh oposisi di pengasingan, Reza Pahlavi, putra mendiang shah Iran. Dalam beberapa bulan terakhir, ia aktif menggalang dukungan internasional bagi gerakan protes yang berkembang di negaranya.

Dalam pidato di Munich yang dihadiri sekitar 250 ribu orang, Pahlavi mengecam keras tindakan aparat Iran terhadap demonstran. Ia menilai gelombang protes bukan sekadar soal ekonomi, tetapi cerminan ketidakpuasan publik terhadap sistem politik yang dianggap represif.

Selain Munich, massa besar juga berkumpul di Los Angeles dan Toronto. Aksi solidaritas dalam skala lebih kecil berlangsung di sejumlah kota lain, termasuk Tel Aviv, Lisbon, Sydney, hingga London.

Sejumlah kelompok aktivis memperkirakan lebih dari 6.000 orang tewas sejak demonstrasi terkait lonjakan biaya hidup berkembang menjadi gerakan anti-pemerintah yang lebih luas.

Dalam orasinya, Pahlavi menyampaikan pesan langsung kepada warga Iran yang masih turun ke jalan. Ia menegaskan, mereka tidak sendirian dan perhatian dunia internasional kini tertuju pada perjuangan mereka.

Ia juga mengkritik kepemimpinan Iran saat ini. Menurutnya, masyarakat Iran memiliki sejarah peradaban besar dan berpotensi menunjukkan wajah berbeda jika negara itu menjadi lebih bebas.

Di Munich, Pahlavi tampil bersama istrinya, Yasmine Pahlavi. Sementara putri mereka, Noor Pahlavi, menyampaikan pidato dalam aksi di Los Angeles.

Mengutip laporan CBS News, Noor mengatakan, “Rakyat Iran “belum pernah sedekat ini” dengan peluang membebaskan diri dari pemerintahan Islam.” Ia juga mendesak Presiden Amerika Serikat Donald Trump menghentikan perundingan nuklir dengan Iran, yang ia sebut sebagai “negosiasi dengan pembunuh”.

Trump sebelumnya menyatakan perubahan pemerintahan di Iran bisa menjadi hal positif, meski belum secara tegas menunjukkan dukungan kepada Pahlavi. Kepada Reuters, ia juga sempat menilai Pahlavi sosok menarik, tetapi belum tentu memiliki dukungan cukup di dalam negeri.

Protes Bermula dari Krisis Ekonomi

Gelombang demonstrasi di Iran sendiri mulai pecah akhir Desember lalu. Awalnya dipicu tekanan ekonomi dan kenaikan biaya hidup, aksi tersebut kemudian berkembang menjadi kritik terbuka terhadap pemerintah.

Demonstrasi dilaporkan meluas ke lebih dari 100 kota di seluruh provinsi Iran. Data dari Human Rights Activists News Agency menyebut 6.872 demonstran tewas, termasuk lebih dari 150 anak-anak. Pemerintah Iran mengakui sekitar 3.000 korban jiwa, namun menyatakan sebagian merupakan anggota aparat keamanan.

Sejumlah peserta aksi di Toronto mengatakan mereka ikut berdemo untuk menyuarakan kondisi keluarga dan kerabat yang masih berada di Iran. Laporan BBC Persian menyebut banyak demonstran berharap tekanan internasional bisa mendorong perubahan politik lebih cepat.

Masa Depan Iran Masih Tanda Tanya

Pahlavi sendiri pernah dipersiapkan menjadi penerus takhta sebelum revolusi Islam 1979 menggulingkan monarki ayahnya. Hampir lima dekade kemudian, ia kembali mencoba mengambil peran dalam diskursus politik Iran.

Namun, visinya tetap menuai perdebatan. Sebagian pihak mendukungnya sebagai simbol perubahan, sementara yang lain khawatir gagasannya berpotensi membuka jalan bagi kembalinya monarki, tuduhan yang berulang kali ia bantah.

Hingga kini, arah politik Iran masih belum jelas. Tekanan dari dalam negeri terus berlangsung, sementara dukungan global kian terlihat. Pertanyaannya tinggal satu, sejauh mana gelombang solidaritas ini mampu mendorong perubahan nyata di Iran.

Bagikan