China Gunakan AI untuk Atur Pengisian Bahan Bakar Jet Tempur di Udara

1773906107523 22696e21 4f6a 415e 8078 5555b0ac400c dc707f68 jpg

BicaraPlus – Tentara Pembebasan Rakyat atau PLA memperkenalkan sistem baru berbasis kecerdasan buatan untuk mengatur operasi pengisian bahan bakar pesawat di udara.

Menurut laporan PLA Daily, sistem ini dirancang untuk meningkatkan efisiensi sekaligus keselamatan dalam misi udara yang kompleks.

Teknologi tersebut mampu memantau wilayah udara secara real time dan menghitung kondisi bahan bakar dari setiap pesawat yang beroperasi. Dengan data tersebut, sistem akan menyusun rencana pengisian bahan bakar yang paling optimal.

Perhitungan dilakukan berdasarkan sejumlah faktor, seperti tingkat bahan bakar, kapasitas wilayah udara, serta durasi penerbangan masing-masing pesawat. Hasilnya berupa rekomendasi yang dapat langsung digunakan oleh pilot di lapangan.

“Sistem ini mampu memberikan solusi yang lebih efektif dibanding metode sebelumnya,” ungkap salah satu perwira Angkatan Udara China, Yu He.

Sebelum teknologi ini digunakan, proses pengisian bahan bakar di udara sering berlangsung tidak efisien. Pesawat pengisian bahan bakar biasanya hanya menunggu di udara, sementara jet tempur memilih pesawat terdekat. Situasi ini kerap menyebabkan ketidakseimbangan, dengan sebagian pesawat kelebihan beban sementara yang lain tidak digunakan.

PLA menilai cara lama tersebut menjadi salah satu kelemahan yang dapat menghambat efektivitas operasi militer, terutama dalam skenario pertempuran modern.

Kemunculan teknologi ini juga terjadi tidak lama setelah insiden jatuhnya pesawat pengisian bahan bakar milik Amerika Serikat, Boeing KC-135 Stratotanker, di Irak pada 12 Maret. Kecelakaan tersebut menewaskan seluruh awak pesawat.

Pihak Pentagon menyatakan bahwa tidak ada bukti keterlibatan serangan musuh dalam insiden tersebut, meskipun sempat muncul klaim dari kelompok milisi.

Dalam analisis yang disiarkan oleh China Central Television, pakar militer Du Wenlong menilai armada KC-135 milik AS sudah menua dan menghadapi tekanan operasional yang tinggi.

Ia menyebut bahwa penggunaan pesawat lama dalam misi jarak jauh, terutama di wilayah konflik, dapat meningkatkan risiko kelelahan pada struktur pesawat maupun awaknya.

Pengembangan sistem berbasis AI ini menunjukkan upaya China untuk meningkatkan kemampuan operasional militernya, sekaligus menyesuaikan diri dengan tuntutan perang modern yang semakin mengandalkan teknologi.

Bagikan