Cerita Kepala BRIN Arif Satria: Pernah Gagal Lomba KIR, Kini Pimpin 8.000 Periset

1767873094 86448200 original 1

BicaraPlus – Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof. Arif Satria, membagikan kisah masa mudanya saat bersilaturahim dengan para pemimpin redaksi media massa nasional di Jakarta, belum lama ini. Di balik karier akademisnya yang cemerlang, siapa sangka Arif remaja pernah merasakan pahitnya kegagalan di dunia sains.

Sambil berseloroh, Arif mengenang masa-masanya saat aktif mengikuti kegiatan Karya Ilmiah Remaja (KIR). Ia bercerita bahwa dirinya adalah salah satu peserta yang sudah harus tersingkir sejak tahap awal kompetisi.

“Dulu kan ada kegiatan ilmiah remaja (KIR), saya sering ikut itu. Saya salah satu peserta yang gagal di tahap awal,” ujar Arif yang langsung disambut gelak tawa hadirin.

Meski gagal, pria lulusan SMA Muhammadiyah Pekalongan ini mengaku tidak kapok. Alih-alih berhenti, kegagalan itu justru membuatnya semakin terpacu untuk terus mencoba berbagai perlombaan ilmiah lainnya. Walaupun tidak kunjung membawa pulang piala, ia merasa senang karena setidaknya bisa mengoleksi sertifikat kepesertaan.

Kegigihan itu akhirnya membuahkan hasil di kemudian hari. Setelah menempuh studi di IPB University, prestasi Arif melejit hingga berhasil meraih beasiswa ke Jepang. Risetnya di bidang perikanan di Negeri Sakura itu pun sukses memanen berbagai penghargaan internasional.

RI Masih Krisis Periset, Kalah Telak dari Satu Perusahaan China

Meski kini menakhodai lembaga riset tertinggi di tanah air, Arif menyadari tantangan besar yang dihadapi Indonesia. Saat ini, jumlah periset di Indonesia masih tergolong sangat minim. Bayangkan saja, hingga saat ini BRIN baru memiliki sekitar 8.000 periset.

Jika menilik rasio penduduk, jumlah peneliti di Indonesia bahkan belum mencapai angka 300 orang per satu juta penduduk. Angka ini tentu sangat kontras jika dibandingkan dengan kemajuan riset di negara lain maupun korporasi global.

Arif kemudian membandingkan kondisi Indonesia dengan raksasa teknologi asal China, Huawei. Ia memaparkan bahwa Huawei memiliki sekitar 200 ribu pegawai, di mana setengah dari jumlah tersebut merupakan periset di divisi Research and Development (R&D). Menurutnya, dari segi skala jumlah periset, Indonesia sebagai negara bahkan masih kalah dibandingkan dengan satu perusahaan swasta tersebut.

Memupuk Imajinasi Lewat ‘Science Tourism’

Untuk mengejar ketertinggalan tersebut, Arif menekankan bahwa minat terhadap dunia riset harus dipupuk sejak dini. Menurutnya, riset bukan sebatas soal angka rumit dan laboratorium yang kaku, melainkan tentang kekuatan imajinasi. Ia percaya bahwa kekayaan riset Indonesia di masa depan bergantung pada imajinasi anak-anak di level sekolah dasar hingga menengah atas.

Sebagai langkah konkret pada tahun 2026, BRIN berencana membuka akses fasilitasnya lebih luas bagi generasi muda melalui program Science Tourism. Melalui konsep ini, BRIN ingin membiarkan siswa-siswa sekolah datang berkunjung untuk melihat langsung bagaimana proses sains bekerja di lapangan.

Dengan mendekatkan dunia riset ke bangku sekolah, Arif berharap profesi periset tidak lagi dianggap sebagai bidang yang “menakutkan” atau eksklusif. Sebaliknya, riset diharapkan bisa menjadi cita-cita yang menarik dan prestisius bagi masa depan anak muda Indonesia.

Bagikan