
BicaraPlus – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menurunkan tim khusus untuk menyelidiki tumpukan kayu yang terbawa banjir dan tanah longsor di beberapa wilayah Sumatra. Tim ini melakukan forensik kayu untuk mengetahui jenis, asal, dan bagaimana kayu-kayu itu terbawa bencana.
Langkah ini diharapkan memberi gambaran berbasis data tentang penyebab dan faktor pendukung bencana. Hasilnya juga akan menjadi dasar strategi mitigasi bencana ke depan. “Forensik kayu penting untuk melihat hubungan antara kondisi hutan di hulu, aktivitas manusia, dan dampak bencana di hilir,” kata Ratih Damayanti, Peneliti Ahli Utama BRIN bidang Forensik Kayu.
Tim BRIN turun langsung ke lapangan, didampingi akademisi dan lembaga terkait. Mereka mengambil sampel kayu dan tanah, serta membuat plot pengamatan untuk menghitung volume kayu yang hanyut. Analisis mencakup kayu yang ditebang manusia, tumbang alami, atau tercabut akibat longsor.
“Kami menghitung volume kayu, lalu memetakan persentase yang berasal dari tebangan, tumbang alami, atau terdampak banjir dan longsor,” jelas Ratih.
Identifikasi kayu dilakukan melalui analisis struktur anatomi, keahlian utama tim BRIN dan Xylarium Bogoriense. Untuk meningkatkan akurasi, mereka juga menggunakan teknologi DNA dan DART TOFMS di Laboratorium Genetika Hutan IPB, bagian dari konsorsium WoodID Indonesia.
Proses ini memerlukan ketelitian tinggi karena setiap kesimpulan harus berdasarkan bukti ilmiah. Saat ini, sampel masih dalam tahap pengumpulan dan pengolahan awal, dan data kuantitatif ditargetkan rampung dalam waktu dekat. Penelusuran jenis kayu dan asal-usulnya diperkirakan memakan waktu sekitar satu bulan.
“Pendekatan forensik kami tidak berangkat dari asumsi, tapi dari bukti ilmiah. Itu prinsip utama kami,” tegas Ratih.




