
BicaraPlus – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menaikkan nilai Dana Riset dan Inovasi untuk Indonesia Maju (RIIM) Strategis hingga empat kali lipat. Kebijakan ini diambil untuk mempercepat hilirisasi riset agar hasil penelitian dapat segera dimanfaatkan oleh masyarakat dan industri.
Kepala BRIN Arif Satria mengatakan, penguatan Dana RIIM Strategis menjadi instrumen penting agar riset-riset prioritas tidak berhenti pada tahap laboratorium, tetapi berlanjut hingga siap diterapkan.
“Dana RIIM Strategis kami tingkatkan empat sampai lima kali lipat. Kalau masih kurang, akan kami dorong lagi,” kata Arif dalam Media Lounge Discussion (MELODI) bertajuk Arah Baru Riset dan Inovasi Nasional di Gedung B.J. Habibie, Jakarta, Selasa (23/12).
Menurut Arif, percepatan hilirisasi riset tidak hanya bergantung pada besaran dana, tetapi juga pada kekuatan ekosistem riset secara keseluruhan. Ia menyebut ada lima faktor utama yang harus berjalan bersamaan agar riset menghasilkan dampak nyata.
“Kalau mau risetnya kuat dan berdampak, ekosistemnya harus lengkap. Ada lima faktor,” ujarnya.
Kelima faktor tersebut meliputi sumber daya manusia, pendanaan, infrastruktur riset, kejelasan tema riset, serta ekosistem kolaborasi dan pemanfaatan hasil riset. Arif menilai, sebagian besar faktor tersebut saat ini telah dimiliki BRIN.
“Human capital kita kuat, infrastrukturnya juga sudah sangat baik. Pendanaannya sekarang kita perkuat melalui Dana RIIM Strategis,” katanya.
Ia menambahkan, untuk riset strategis, BRIN menerapkan pendekatan top-down agar arah penelitian selaras dengan kebutuhan nasional dan agenda pembangunan pemerintah.
“Tema riset strategis harus jelas. Tidak semuanya diserahkan ke kompetisi bottom-up, karena kita juga punya target nasional yang harus dijawab,” ujar Arif.
Selain itu, BRIN juga menekankan pentingnya penguatan ekosistem kolaborasi agar hasil riset dapat diadopsi oleh industri, pemerintah daerah, maupun masyarakat.
“Hilirisasi itu bukan hanya soal produk, tetapi bagaimana riset terhubung dengan pengguna dan mitra,” katanya.
Arif menjelaskan, Dana RIIM Strategis difokuskan untuk mendukung riset dengan tingkat kesiapterapan teknologi menengah hingga tinggi, terutama yang berpotensi langsung diterapkan atau dikembangkan menjadi inovasi.
“Fokus kami pada riset yang sudah mendekati penerapan, supaya dampaknya bisa segera dirasakan,” ujarnya.
Sebagai contoh, Arif menyinggung pengembangan teknologi air siap minum (Arsinum) yang telah dimanfaatkan di sejumlah wilayah terdampak bencana. Ke depan, teknologi serupa akan terus didorong agar dapat diterapkan dalam skala yang lebih luas.
Melalui penguatan Dana RIIM Strategis dan ekosistem riset tersebut, BRIN menargetkan lahirnya sedikitnya 120 inovasi siap guna dalam waktu dekat, baik dari riset internal maupun hasil kolaborasi dengan perguruan tinggi.
“Dengan dana besar, publik wajar bertanya hasilnya apa. Yang kami dorong sekarang adalah hasil yang konkret dan bisa dimanfaatkan,” tegas Arif.




