
BicaraPlus – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) terus mengembangkan sistem monitoring cerdas pada Sarana Bantu Navigasi Pelayaran (SBNP). Teknologi ini diharapkan meningkatkan keselamatan pelayaran sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.
Riset tersebut merupakan kolaborasi Pusat Riset Elektronika BRIN dengan Distrik Navigasi Tanjung Intan, Kementerian Perhubungan. Sistem yang dikembangkan berupa smart buoy atau pelampung navigasi pintar yang mampu memantau kondisi perairan secara real time.
Kepala Organisasi Riset Elektronika dan Informatika BRIN Budi Prawara mengatakan, sistem ini dirancang untuk meningkatkan keselamatan lalu lintas kapal sekaligus efisiensi pemeliharaan sarana navigasi.
Menurutnya, kawasan Cilacap memiliki peran strategis karena menjadi jalur vital distribusi energi nasional.
Smart buoy dilengkapi sensor GPS untuk memantau posisi pelampung navigasi. Jika bergeser dari radius aman, sistem dapat segera memberi peringatan sehingga respons bisa dilakukan lebih cepat.
Direktur Jenderal Perhubungan Laut Muhammad Masyhud menilai keandalan navigasi di jalur Tanjung Intan–Cilacap sangat krusial. Selain jalur pelayaran padat, wilayah ini juga menjadi simpul distribusi bahan bakar dari kilang PT Pertamina (Persero) RU IV Cilacap.
Kilang tersebut berkapasitas sekitar 348 ribu barel per hari, menyuplai sekitar 34 persen kebutuhan BBM nasional dan sekitar 60 persen kebutuhan Pulau Jawa.
Sementara itu, Kepala Pusat Riset Elektronika BRIN Yusuf Nur Wijayanto menyebut teknologi smart buoy ini diproyeksikan menjadi pilot project nasional dalam transformasi digital sistem kenavigasian.
Pengembangannya dimulai sejak 2022 melalui kerja sama riset BRIN dengan Direktorat Jenderal Perhubungan Laut. Pada 2024 kolaborasi diperluas ke Distrik Navigasi Tanjung Intan, dan kini dua unit smart buoy sudah terpasang serta terhubung ke pusat kendali untuk pemantauan langsung.
Selain keselamatan pelayaran, teknologi buoy pintar ini juga berpotensi dimanfaatkan untuk pemantauan lingkungan hingga sistem peringatan dini bencana laut. BRIN sebelumnya telah menggunakan teknologi serupa untuk sistem peringatan dini tsunami.





