
BicaraPlus – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan inovasi pakan ikan air tawar berbahan baku limbah industri penyamakan kulit. Bahan yang digunakan tak biasa: tepung daging ular dan biawak.
Peneliti Pusat Riset Zoologi Terapan BRIN, Reza Samsudin, mengatakan kebutuhan pakan ikan nasional terus meningkat seiring pertumbuhan produksi budi daya.
Mengutip One Data Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) 2025, produksi budi daya sepanjang 2024 mencapai 5.901.008 ton. Dengan asumsi Feed Conversion Ratio (FCR) rata-rata nasional 1,3, maka kebutuhan pakan diperkirakan menembus 7,6 juta ton per tahun.
“Industri perikanan naik terus. Ikan tumbuh, produksi banyak, tentu perlu makan. Ini segmen bisnis yang sangat menjanjikan ke depan,” kata Reza dalam Temu Bisnis Biosains Terapan 2026 di Gedung B.J. Habibie, Jakarta, belum lama ini.
Menjawab tingginya permintaan tersebut, BRIN memformulasikan pakan tipe tenggelam yang telah disesuaikan dengan Standar Nasional Indonesia (SNI). Pakan ini dirancang untuk mendukung pertumbuhan, efisiensi pakan, dan retensi protein ikan air tawar.
Uji coba dilakukan pada tiga komoditas utama. Ikan kancra (dewa) menggunakan formulasi tepung daging ular, ikan nila menggunakan tepung daging biawak, serta telah diuji secara masif pada ikan lele.
Hasilnya cukup mencolok.
Pada uji lapangan di sentra lele Cirebon dan Bogor, pakan ini mencatatkan FCR 0,98. Artinya, untuk menghasilkan 1 kilogram daging lele, pembudidaya hanya membutuhkan 0,98 kilogram pakan.
Sebagai pembanding, pakan komersial di kelas yang sama rata-rata memiliki FCR sekitar 1,1.
“Kalau mitra industri punya extruder, formulasi ini juga bisa dibuat dalam bentuk pakan apung (floating),” ujar Reza.
Pengujian tidak hanya dilakukan di laboratorium, tetapi juga di sentra produksi kancra di Sumedang serta nila dan lele di Bogor.
Dari sisi bahan baku, satu sentra pengolahan kulit reptil disebut mampu menghasilkan limbah daging hingga 300 kilogram per hari. Volume ini dinilai cukup potensial untuk dikembangkan melalui kemitraan industri.
Menurut Reza, biaya bahan baku yang rendah membuat harga produksi lebih kompetitif dan relevan untuk produsen pakan skala kecil hingga menengah.
Selain menjadi solusi ekonomi, inovasi ini juga menawarkan pendekatan sirkular dengan memanfaatkan limbah industri kulit. Ke depan, pakan ini juga dinilai dapat mendukung rantai pasok protein ikan, termasuk untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG).
“Kalau lagi ramai MBG, ini masuk juga. Kita support pakannya, ikannya buat MBG, semua senang,” pungkasnya.





