BRIN Kembangkan Genting Biomassa yang Lebih Ringan dan Tahan Gempa

1773285274 54503522

BicaraPlus – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan inovasi material bangunan ramah lingkungan berupa genting komposit berbasis biomassa. Material ini dirancang lebih ringan, kuat, dan berpotensi meningkatkan keamanan hunian, terutama di wilayah rawan gempa.

Peneliti Pusat Riset Biomassa dan Bioproduk, Organisasi Riset Nanoteknologi dan Material BRIN, Sukma Surya Kusumah, mengatakan inovasi tersebut dilatarbelakangi oleh kondisi geografis Indonesia yang rentan terhadap gempa bumi.

“Banyak kejadian saat gempa bumi, penghuni rumah mengalami cedera karena tertimpa genting yang berat. Di sisi lain, Indonesia memiliki potensi biomassa yang sangat melimpah namun belum dimanfaatkan secara optimal,” ujar Sukma, belum lama ini.

Menurutnya, dari kondisi tersebut muncul inisiatif untuk mengembangkan biomassa menjadi produk bernilai tambah tinggi, salah satunya sebagai material genting.

Selain meningkatkan keselamatan bangunan, genting komposit biomassa juga menjadi alternatif material yang lebih ramah lingkungan.

Sukma menjelaskan, beberapa jenis genting konvensional seperti asbes memiliki risiko kesehatan karena dapat mengganggu sistem pernapasan dan berpotensi memicu kanker dalam jangka panjang.

Lebih Ringan dan Tetap Kuat

Genting komposit biomassa yang dikembangkan BRIN memiliki bobot jauh lebih ringan dibandingkan genting komersial pada umumnya.

Jika genting tanah liat memiliki berat sekitar 32 kg per meter persegi, genting komposit ini hanya sekitar 4 kg per meter persegi.

Meski ringan, kekuatan mekanisnya tetap terjaga. Genting tersebut mampu menahan beban hingga sekitar 50 kilogram.

“Keunggulan utamanya adalah ringan tetapi tetap kuat. Hal ini penting untuk meningkatkan keselamatan penghuni rumah, terutama di wilayah yang rawan gempa,” jelas Sukma.

Selain ringan, genting komposit biomassa juga memiliki sejumlah kelebihan lain, seperti tahan air, tahan api dengan laju pembakaran yang lebih lambat, serta memiliki harga yang relatif kompetitif.

Material ini juga termasuk produk ramah lingkungan atau green product.

Inovasi tersebut dinilai berpotensi mendukung target net zero emission Indonesia pada 2060, sekaligus mendukung program pembangunan perumahan nasional.

Memanfaatkan Limbah Biomassa

Material utama genting komposit ini berasal dari limbah biomassa lignoselulosa, seperti serat kelapa dan limbah kelapa sawit.

Sementara perekatnya berasal dari bahan alami, antara lain tanin, asam sitrat, sukrosa, serta molase dari limbah pengolahan tebu.

Ia memaparkan, penggunaan perekat alami menjadi salah satu keunggulan produk ini.

Pasalnya, sebagian besar produk komersial masih menggunakan perekat berbasis formaldehida yang berpotensi berdampak buruk bagi kesehatan dan lingkungan.

Proses produksi dimulai dari pengolahan bahan biomassa menjadi partikel kecil menggunakan peralatan seperti ring flaker, drum chipper, dan hammer mill.

Partikel tersebut kemudian diseleksi berdasarkan ukuran menggunakan mesin ayakan untuk mendapatkan komposisi optimal.

Setelah dikeringkan hingga kadar air sekitar 5–8 persen, partikel biomassa dicampur dengan perekat alami hingga merata.

Campuran tersebut kemudian melalui proses mat forming, cold press, dan hot press molding hingga terbentuk genting komposit.

Telah Melalui Uji Lapangan

Untuk memastikan kualitas produk, tim peneliti melakukan berbagai pengujian, mulai dari uji sifat fisis dan mekanis, uji ketahanan cuaca, hingga uji ketahanan api.

Sejak riset dimulai pada 2021, genting komposit biomassa juga telah menjalani uji lapangan selama satu tahun.

“Hasil uji lapangan menunjukkan produk ini mampu bertahan dengan baik. Genting tidak mengalami pengembangan signifikan dan kekuatannya masih cukup untuk menahan beban manusia saat perawatan atap,” kata Sukma.

Saat ini, tim peneliti masih melanjutkan pengujian untuk mengetahui daya tahan produk yang diperkirakan dapat mencapai 10 hingga 20 tahun.

Dalam pengembangannya, BRIN juga menggandeng sejumlah mitra industri.

Beberapa di antaranya PT Coir Indonesia Global sebagai pemasok serat kelapa, perusahaan sawit sebagai penyedia tandan kosong kelapa sawit, serta PT Baja Tangguh Lestari sebagai mitra produksi genting komposit.

Melalui inovasi ini, BRIN berharap pemanfaatan limbah biomassa tidak hanya meningkatkan nilai tambah sumber daya alam, tetapi juga menghadirkan solusi material bangunan yang lebih aman, berkelanjutan, dan ramah lingkungan bagi masyarakat.

Bagikan