
BicaraPlus – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyatakan Indonesia siap menyongsong era baru industri kedirgantaraan yang semakin berkembang di kawasan Asia Tenggara. Hal ini disampaikan melalui partisipasi BRIN dalam ajang Space Summit 2026 di Singapura yang mempertemukan lembaga antariksa, industri global, serta pemangku kepentingan teknologi ruang angkasa dari berbagai negara.
Kepala Organisasi Riset Penerbangan dan Antariksa BRIN Robertus Heru Triharjanto mengatakan, BRIN terus memperkuat ekosistem industri antariksa nasional, mulai dari pengembangan teknologi hingga penyiapan sumber daya manusia.
“Upaya ini menjadi bagian dari strategi jangka panjang Indonesia agar tidak hanya menjadi pengguna teknologi antariksa, tetapi juga pemain dalam rantai industri global,” ujar Heru saat diwawancarai tim Humas BRIN, Senin (9/3).
Perkuat Ekosistem Antariksa Nasional
Menurut Heru, BRIN telah memfasilitasi berbagai inisiatif untuk memperkuat ekosistem keantariksaan nasional. Salah satunya melalui dukungan terhadap pembentukan sejumlah organisasi profesional seperti Asosiasi Antariksa Indonesia (ARIKSA), Masyarakat Penginderaan Jauh Indonesia (MAPIN), serta Asosiasi Satelit Indonesia (ASSI).
Organisasi tersebut berperan memperkuat kolaborasi antara peneliti, industri, dan pengguna teknologi antariksa di Indonesia.
Selain itu, BRIN juga mendorong kolaborasi dengan industri nasional dalam pengembangan teknologi satelit.
“Salah satu langkah konkret adalah kerja sama pengembangan sistem dan subsistem satelit bersama PT Pasifik Satelit Nusantara sebagai bagian dari upaya membangun kemandirian teknologi satelit nasional,” kata Heru.
Siapkan SDM Industri Antariksa
Di bidang pengembangan sumber daya manusia, BRIN bekerja sama dengan sejumlah perguruan tinggi untuk menyiapkan tenaga profesional di sektor antariksa.
Program magang bagi mahasiswa hingga bimbingan teknis bagi para profesional disiapkan untuk meningkatkan kapasitas dalam pengolahan data penginderaan jauh serta pengoperasian satelit orbit rendah.
Tidak hanya di tingkat nasional, BRIN juga berkontribusi dalam ekosistem industri antariksa global. Melalui fasilitas stasiun bumi yang dimiliki, BRIN mendukung kegiatan pelacakan peluncuran dan operasi satelit yang dilakukan oleh lembaga antariksa internasional seperti Indian Space Research Organisation dan perusahaan peluncuran satelit Skyroot Aerospace.
Indonesia Berpotensi Jadi Lokasi Bandar Antariksa
BRIN juga aktif mempromosikan potensi wilayah Indonesia sebagai lokasi bandar antariksa yang dapat dimanfaatkan oleh penyedia layanan peluncuran satelit global.
Posisi geografis Indonesia yang berada di wilayah ekuator dinilai memiliki keunggulan strategis untuk aktivitas peluncuran satelit.
Dalam pengembangan jangka panjang, BRIN bersama Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) tengah menyusun peta jalan ekonomi antariksa Indonesia. Dokumen ini diharapkan menjadi dasar pengembangan industri antariksa nasional yang terarah dan berkelanjutan.
Sementara itu, arah riset BRIN di bidang keantariksaan difokuskan pada penguasaan teknologi satelit penginderaan jauh dan pengembangan Space Situational Awareness (SSA). Teknologi ini penting untuk mendukung berbagai kebutuhan nasional, mulai dari pemantauan lingkungan hingga mitigasi bencana.
BRIN juga mengusulkan pengembangan konstelasi satelit penginderaan jauh nasional kepada pemerintah. Pada tahap awal, satelit akan dikembangkan melalui kerja sama internasional sebelum nantinya diproduksi secara mandiri di dalam negeri.
Industri Antariksa Asia Tenggara Makin Berkembang
Direktur Eksekutif Indonesian National Space Agency (INASA) BRIN, Erna Sri Adiningsih, mengatakan perkembangan industri antariksa di Asia Tenggara dalam lima tahun terakhir menunjukkan peningkatan yang signifikan.
Hal ini terlihat dari semakin kuatnya infrastruktur antariksa serta meningkatnya keterlibatan sektor swasta dalam pengembangan teknologi ruang angkasa.
Menurut Erna, teknologi antariksa kini semakin dekat dengan kehidupan masyarakat, mulai dari layanan navigasi, konektivitas digital, prakiraan cuaca, hingga pemantauan pertanian dan manajemen bencana.
“Karena itu, investasi dalam teknologi antariksa tidak hanya berkaitan dengan sains, tetapi juga merupakan investasi strategis bagi pembangunan ekonomi dan layanan publik,” ujar Erna.
Melalui penguatan riset, kolaborasi internasional, serta pembangunan ekosistem industri, BRIN optimistis Indonesia dapat mengambil peran lebih besar dalam industri kedirgantaraan global.
“Dengan memanfaatkan potensi geografis, sumber daya manusia, serta dukungan kebijakan nasional, Indonesia diharapkan tidak hanya menjadi pasar teknologi antariksa, tetapi juga pemasok dalam rantai industri keantariksaan dunia,” pungkasnya.





