BRIN Dorong Penguatan Tata Kelola Mineral Kritis untuk Tingkatkan Daya Tawar Global

1776896605 65586020

BicaraPlus — Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mendorong penguatan tata kelola mineral kritis dan strategis guna meningkatkan posisi tawar Indonesia dalam kerja sama dagang global, termasuk dengan Amerika Serikat.

Isu tersebut mengemuka dalam Webinar DIGDAYA #21 bertajuk “Pengelolaan Sumber Daya Bumi Berkelanjutan” yang digelar dalam rangka peringatan Hari Bumi 2026, belum lama ini.

Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Sumber Daya Geologi (PRSDG) BRIN, Triswan Suseno, menegaskan bahwa pengelolaan mineral kritis tidak hanya berkaitan dengan aspek geologi, tetapi juga memiliki dimensi strategis dalam diplomasi ekonomi dan perdagangan internasional.

“Meningkatnya kebutuhan global terhadap mineral kritis seiring percepatan transisi energi bersih telah memicu persaingan antarnegara dalam mengamankan pasokan,” ujar Triswan.

Menurutnya, Indonesia memiliki posisi strategis karena didukung cadangan mineral yang melimpah. Hal ini menjadi modal penting dalam memperkuat daya tawar dalam negosiasi investasi dan perdagangan, khususnya dengan Amerika Serikat.

Ia menjelaskan, melalui rencana Perjanjian Perdagangan Timbal Balik (Agreement on Reciprocal Trade/ART) yang dijadwalkan pada Februari 2026, Indonesia membuka peluang investasi Amerika Serikat di sektor pertambangan mineral kritis, baik dari hulu hingga hilir.

Namun demikian, kerja sama tersebut tetap diarahkan untuk memperkuat hilirisasi di dalam negeri.

“Produk mineral yang diekspor diharapkan telah melalui proses pengolahan di dalam negeri guna meningkatkan nilai tambah. Selain itu, kerja sama ini juga difokuskan pada penguatan rantai pasok global untuk teknologi hijau, termasuk kendaraan listrik,” jelasnya.

Triswan menyoroti lima komoditas utama yang memiliki nilai strategis tinggi, yakni nikel, tembaga, bauksit, timah, dan emas. Dominasi Indonesia, terutama pada komoditas nikel, dinilai memberikan peluang besar untuk menjadi pemain kunci dalam rantai pasok global.

Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya kebijakan tata kelola yang terintegrasi, mulai dari pemberian insentif fiskal dan nonfiskal, penguatan hilirisasi, hingga peningkatan transparansi dan keterlacakan (traceability) rantai pasok sesuai standar internasional.

“Keberhasilan kerja sama perdagangan sangat bergantung pada kemampuan Indonesia dalam memastikan tata kelola mineral strategis yang berkelanjutan, bernilai tambah, serta mampu mendorong transfer teknologi,” tegasnya.

Selain itu, kerja sama dengan Amerika Serikat dinilai berpotensi meningkatkan daya saing produk nasional sekaligus menarik investasi teknologi tinggi ke dalam negeri.

Sebagai informasi, Diskusi Geologi Sumber Daya PRSDG-BRIN yang menjadi bagian dari Webinar DIGDAYA #21 berlangsung selama dua hari dengan fokus berbeda.

Pada hari pertama, pembahasan berfokus pada “Proses Geologi, Pemanfaatan, dan Tata Kelola dalam Pengembangan Sumber Daya Bumi Berkelanjutan”. Sementara pada hari kedua mengangkat tema “Eksplorasi Sumber Daya Bumi Masa Depan: Peran Ilmu Kebumian, Energi Baru, dan Tata Kelola Berkelanjutan”.

Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya meningkatkan pemahaman publik mengenai pentingnya pengelolaan sumber daya bumi secara berkelanjutan, mulai dari proses eksplorasi hingga konservasi.

Bagikan