
Jakarta — Dalam rangka memperingati Hari Bumi 2026, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Pusat Riset Sumber Daya Geologi (PRSDG) menyoroti pemanfaatan teknologi fotokatalis sebagai solusi inovatif untuk mengurangi limbah pertambangan sekaligus mendorong pengelolaan sumber daya bumi yang berkelanjutan.
Hal tersebut disampaikan dalam Webinar DIGDAYA #21 bertema “Pengelolaan Sumber Daya Bumi Berkelanjutan” yang digelar beberapa waktu lalu.
Peneliti Ahli Utama PRSDG BRIN, Solihin, memaparkan hasil riset strategis terkait pemanfaatan sumber daya geologi marjinal, yakni material ikutan dan limbah industri pertambangan yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal.
“Pemanfaatan sumber daya marjinal menjadi kunci untuk mengurangi beban lingkungan akibat limbah pertambangan, sekaligus meningkatkan nilai tambah ekonomi secara sirkular,” ujar Solihin.
Ia menjelaskan bahwa aktivitas ekstraksi mineral di Indonesia kerap menyisakan material marjinal, seperti mineral ikutan pada bijih nikel laterit, di antaranya goethite dan magnesium aluminium silikat serta limbah fly ash dan bottom ash (FABA).
Melalui pendekatan riset terintegrasi, tim PRSDG BRIN mengembangkan inovasi fotokatalis berbasis titanium dioksida (TiO2) dan besi oksida (Fe2O3) yang disintesis dari sumber daya tersebut, termasuk ilmenite, pasir besi, dan bijih laterit.
Menurut Solihin, teknologi ini memiliki dua fungsi utama dalam mengatasi pencemaran lingkungan.
Pertama, sebagai agen degradasi limbah zat warna yang mampu menguraikan polutan berbahaya seperti metilen biru yang umum ditemukan pada limbah industri tekstil. Kedua, sebagai agen antibakteri yang efektif melumpuhkan bakteri patogen seperti E. coli.
Selain itu, tim peneliti juga mengembangkan teknik doping menggunakan elemen logam dan non-logam untuk menurunkan band gap material, sehingga proses fotokatalisis menjadi lebih optimal dan efisien dalam menyerap energi.
Lebih lanjut, Solihin menyebut hilirisasi riset ini tidak berhenti pada pengembangan fotokatalis, tetapi juga diarahkan pada transformasi limbah menjadi produk bernilai tambah yang siap digunakan industri.
Beberapa di antaranya meliputi pupuk slow release untuk efisiensi sektor pertanian, sintesis zeolit sebagai material filtrasi industri, serta pengembangan material maju seperti quantum dots dan pelapis pintar (smart coating) untuk kebutuhan teknologi masa depan.
“Hilirisasi sumber daya marjinal ini diharapkan menjadi standar baru praktik pertambangan yang lebih bertanggung jawab, di mana setiap material yang diambil dari bumi dapat dimanfaatkan secara maksimal dan ramah lingkungan,” katanya.
Pemaparan tersebut menegaskan bahwa upaya pelestarian lingkungan dan kemajuan industri dapat berjalan beriringan melalui inovasi teknologi dan pengelolaan sumber daya yang berkelanjutan.




