BRIN dan UC Santa Cruz Bahas Sejarah Reklamasi Pesisir di Asia Tenggara

1772783563 97240897

BicaraPlus – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menggelar kuliah umum bertajuk “The Clam, the Mud, and the Girl: A History of Land Reclamation in Maritime Southeast Asia”. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat kolaborasi internasional antara peneliti BRIN dan University of California, Santa Cruz.

Melalui forum ilmiah ini, para peneliti dan peserta mendiskusikan bagaimana perubahan lanskap pesisir di Asia Tenggara maritim terbentuk melalui interaksi antara proses ekologis, aktivitas manusia, serta dinamika sejarah kawasan.

Kepala Organisasi Riset Ilmu Pengetahuan Sosial dan Humaniora BRIN Muhammad Najib Azca mengatakan, berbagai persoalan lingkungan saat ini semakin kompleks sehingga memerlukan pendekatan lintas disiplin.

“Banyak persoalan yang kita hadapi hari ini, baik di tingkat lokal maupun global, tidak dapat dijelaskan hanya melalui satu disiplin ilmu. Karena itu, pendekatan multidisipliner menjadi sangat penting,” ujar Najib dalam sambutannya di Gedung Widya Graha BRIN Gatot Subroto, belum lama ini.

Menurut Najib, BRIN memiliki potensi besar untuk mengembangkan kolaborasi lintas bidang. Dengan lebih dari 7.000 peneliti dari berbagai disiplin ilmu, BRIN terus mendorong pengembangan platform riset yang mempertemukan perspektif ilmu alam, teknologi, serta ilmu sosial dan humaniora.

Dalam kuliah tersebut, antropolog dari University of California Santa Cruz Anna Lowenhaupt Tsing mengajak peserta melihat sejarah pesisir Asia Tenggara dari perspektif yang lebih luas.

Ia menjelaskan, perubahan lanskap pesisir di kawasan ini tidak hanya dipengaruhi oleh pembangunan modern, tetapi juga merupakan hasil interaksi panjang antara proses ekologis dan aktivitas manusia selama ribuan tahun.

Menurut Anna, kawasan pesisir Asia Tenggara memiliki karakter yang sangat dinamis karena batas antara daratan dan perairan selalu berubah akibat proses alam seperti pasang surut dan sedimentasi.

“Dalam ekosistem pesisir Asia Tenggara, tanah dan air tidak pernah benar-benar terpisah. Keduanya selalu berinteraksi dan saling membentuk lanskap yang terus berubah,” jelas Anna.

Melalui pendekatan antropologi lingkungan, ia memperkenalkan konsep “lumpur pesisir” sebagai cara memahami hubungan antara ekologi, sejarah, dan praktik pembangunan.

Menurutnya, lumpur bukan sebatas kondisi geografis, tetapi ruang pertemuan berbagai proses alam dan aktivitas manusia yang membentuk sejarah wilayah pesisir.

Anna juga menyoroti bahwa berbagai proyek pembangunan modern sering berupaya memisahkan tanah dan air melalui pembangunan kanal, tanggul, maupun reklamasi. Namun dalam praktiknya, ekologi pesisir sering merespons secara tidak terduga.

“Ketika kita mencoba sepenuhnya mengendalikan alam, sering kali justru muncul persoalan baru—mulai dari sedimentasi, banjir, hingga perubahan ekosistem yang sulit diprediksi,” ujarnya.

Ia menambahkan, ekosistem pesisir seperti mangrove, rawa, dan lahan basah memiliki fungsi ekologis penting, mulai dari menyerap karbon hingga melindungi wilayah pesisir dari badai. Meski demikian, kawasan tersebut kerap dianggap tidak produktif sehingga rentan mengalami perubahan akibat pembangunan.

Sementara itu, Kepala Pusat Riset Kajian Kewilayahan BRIN Fadjar Ibnu Thufail, yang juga menjadi moderator dalam kegiatan ini, menilai perspektif yang disampaikan Anna membuka cara pandang baru dalam memahami sejarah Asia Tenggara maritim.

“Pendekatan yang menghubungkan dinamika ekologis dengan sejarah sosial kawasan memberi ruang bagi kajian kewilayahan untuk melihat Asia Tenggara tidak hanya dari perspektif negara atau pusat kekuasaan,” ujar Fadjar.

Ia menambahkan, kuliah umum ini menjadi bagian dari upaya BRIN untuk memperluas dialog ilmiah sekaligus memperkuat kolaborasi antara peneliti Indonesia dan komunitas akademik internasional.

Bagikan