
BicaraPlus – Banjir bandang yang kerap terjadi di berbagai wilayah Indonesia dinilai bukan lagi sekadar dampak hujan ekstrem. Peneliti konservasi keanekaragaman hayati dari Badan Riset dan Inovasi Nasional Hendra Gunawan menyebut fenomena itu sebagai alarm ekologis akibat menurunnya fungsi hutan.
Menurut Hendra, hujan lebat di kawasan tropis sebenarnya wajar. Namun ketika hutan kehilangan kemampuan menyerap air, menahan tanah, dan meredam energi hujan, curah hujan singkat bisa berubah menjadi banjir bandang yang merusak permukiman dan infrastruktur.
“Banjir bandang kini menjadi sinyal bahwa banyak ekosistem hutan berada pada kondisi kritis,” ujarnya di Cibinong, belum lama ini.
Kerusakan Hutan Bersifat Sistemik
Ia menjelaskan, deforestasi memang faktor penting, tetapi bukan satu-satunya penyebab. Alih fungsi lahan, pertambangan, pembalakan, hingga ekspansi pertanian telah mengubah lanskap hutan secara drastis.
Hutan, kata Hendra, bukan sekadar kumpulan pohon. Ia adalah sistem kompleks yang melibatkan tanah, air, tumbuhan, satwa, mikroorganisme, serta iklim mikro. Jika tekanan terus terjadi, daya lenting ekosistem melemah hingga berujung pada keruntuhan fungsi (ecosystem collapse).
Dampaknya terlihat jelas, air hujan tak lagi terserap, lereng menjadi labil, iklim mikro terganggu, dan habitat keanekaragaman hayati menyusut. Dalam kondisi ini, banjir bandang menjadi konsekuensi ekologis yang sulit dihindari.
Proses Keruntuhan Terjadi Bertahap
Hendra menjelaskan kerusakan hutan biasanya berlangsung perlahan dan sering luput dari perhatian. Ia menyebut lima proses utama perubahan lanskap:
Fragmentasi: hutan terpecah menjadi bagian kecil dan terisolasi.
Dissection: hutan terbelah jalan atau infrastruktur.
Perforasi: muncul “lubang” akibat pembukaan lahan.
Shrinkage: penyusutan luas hutan secara bertahap.
Attrition: hilangnya fragmen hutan sepenuhnya.
Proses ini bisa terjadi bersamaan dan mendorong ekosistem melewati titik kritis yang sulit dipulihkan.
Ia mencontohkan meningkatnya konflik satwa liar di Sumatra sebagai indikator terganggunya habitat alami.
Restorasi Tak Cukup Tanam Pohon
Hendra juga mengingatkan bahwa solusi instan seperti penanaman massal pohon belum tentu memulihkan ekosistem.
“Menanam pohon tidak otomatis memulihkan hutan. Restorasi harus mengembalikan fungsi ekologis secara menyeluruh,” katanya.
Tanpa pendekatan ilmiah berbasis lanskap, rehabilitasi berisiko menghasilkan “hutan semu” yang rapuh dan miskin biodiversitas.
Perlu Perubahan Paradigma Pembangunan
Ia menegaskan penghentian eksploitasi saja belum cukup. Banyak ekosistem yang sudah rusak membutuhkan pemulihan terpadu lintas sektor, mulai dari pemerintah, dunia usaha, akademisi hingga masyarakat.
Menurutnya, selama hutan hanya dilihat sebagai sumber ekonomi, siklus kerusakan dan bencana akan terus berulang. Sebaliknya, jika hutan diposisikan sebagai sistem penyangga kehidupan, pembangunan bisa berjalan lebih berkelanjutan.
“Banjir bandang adalah pesan keras dari alam. Kita perlu belajar sebelum kerusakan menjadi tidak dapat dipulihkan,” pungkasnya.





