Blokade Selat Hormuz Ganggu Pasokan Energi Global, Dampaknya Bisa Bertahun-tahun

1775088398665 upload wikimedia org wikipedia commons thumb 1 16 strait of hormuz and musandam peninsula modis 2018 12 10 jpg 1280px strait of hormuz and musandam peninsula modis 2018 12 10

BicaraPlus – Blokade di Selat Hormuz disebut berdampak besar terhadap aliran energi dunia. Bahkan jika jalur tersebut dibuka kembali, efeknya diperkirakan akan berlangsung lama.

Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran paling vital bagi distribusi minyak dan gas global.

Kepala Institut Ekspor dan Perdagangan Internasional Inggris Marco Forgione mengatakan, kepercayaan pelaku bisnis tidak akan pulih dalam waktu singkat.

Ia memperkirakan butuh waktu bertahun-tahun bagi industri untuk kembali normal.

Sementara, perwakilan perusahaan pelayaran Hapag-Lloyd Nils Haupt menyebut tantangan justru akan muncul setelah konflik berakhir.

Ribuan Kapal Terdampak

Menurut Organisasi Maritim Internasional, sekitar 2.000 kapal saat ini tertahan di kawasan tersebut.

Sebanyak 400 kapal di antaranya menunggu di Teluk Oman untuk melintasi selat.

Banyak kapal lain terpaksa mengalihkan rute melalui Terusan Suez atau memutar lewat Tanjung Harapan di Afrika Selatan, yang membuat waktu pengiriman jauh lebih lama.

Distribusi Energi Terganggu

Pengiriman minyak dari Arab Saudi juga dialihkan melalui Laut Merah untuk menghindari zona konflik.

Badan Energi Internasional mencatat lebih dari 40 fasilitas energi di kawasan mengalami kerusakan.

Beberapa perusahaan, termasuk QatarEnergy, bahkan menyatakan keadaan kahar akibat gangguan produksi.

Blokade ini berdampak pada sekitar 20% pasokan minyak dan gas alam cair global.

Kemacetan Logistik Mengancam

Kepala Asosiasi Asuransi Risiko Perang Norwegia Svein Ringbakken mengungkapkan, penumpukan barang akan sulit diurai.

Menurutnya, proses distribusi akan tetap terganggu meski pelabuhan beroperasi penuh.

Hal ini diperparah oleh kerusakan infrastruktur energi dan transportasi di kawasan Timur Tengah.

Risiko Keamanan Meningkat

Sejak konflik dimulai, Organisasi Maritim Internasional mencatat sedikitnya 18 serangan terhadap kapal.

Salah satunya serangan terhadap kapal tanker pada 11 Maret yang menewaskan seorang pelaut.

CEO Safesea SV Anchan menilai ancaman seperti drone telah mengubah peta keamanan maritim secara signifikan.

Biaya Asuransi Melonjak

Premi asuransi kapal dan kargo dilaporkan naik hingga 300%.

Kepala NSI Insurance Group Oscar Seikaly mengatakan, premi sulit turun tanpa jaminan keamanan penuh.

Potensi Perubahan Jalur Pelayaran

Para ahli menilai krisis ini bisa mendorong perubahan jangka panjang.

Negara dan pelaku industri kemungkinan akan mencari rute alternatif untuk mengurangi ketergantungan pada Selat Hormuz.

Bagikan