
BicaraPlus – Pemimpin oposisi utama Israel, Yair Lapid memperingatkan konflik yang melibatkan Iran dan Hizbullah berpotensi membawa Israel ke dalam “bencana keamanan”.
Ia menilai militer Israel saat ini menghadapi tekanan besar akibat keterlibatan di berbagai front konflik.
Ia menyebut pemerintah mengerahkan pasukan ke sejumlah wilayah tanpa strategi yang jelas dan dengan sumber daya yang terbatas.
“Militer kewalahan dan melampaui batas kemampuannya,” kata Lapid, belum lama ini.
Meski mengkritik pemerintah, Lapid sebelumnya tetap menyatakan dukungan terhadap sejumlah operasi militer Israel di kawasan, termasuk di Gaza dan Lebanon.
Tekanan di Lebanon dan Rencana Zona Penyangga
Situasi di Lebanon turut menjadi sorotan. Juru bicara militer Israel Effie Defrin mengatakan, diperlukan tambahan pasukan untuk membangun zona penyangga di wilayah selatan Lebanon.
Israel bahkan mengumumkan rencana untuk mengendalikan wilayah hingga Sungai Litani, sekitar 30 kilometer dari perbatasan.
Pemerintah Lebanon menolak langkah tersebut dan berencana mengajukan pengaduan ke Dewan Keamanan PBB karena dinilai melanggar kedaulatan negara.
Sejumlah analis militer dan politisi Israel, terutama dari kubu oposisi, menilai rencana tersebut berisiko tinggi dan dapat memperburuk situasi keamanan.
Eskalasi Konflik di Kawasan
Militer Israel Defense Forces dilaporkan terus melakukan serangan di Lebanon sejak meningkatnya ketegangan lintas batas dengan Hezbollah.
Di saat yang sama, konflik juga melibatkan Iran dan Amerika Serikat, yang memperluas eskalasi di kawasan.
Namun, sejumlah klaim terkait jumlah korban dan detail serangan belum sepenuhnya dapat diverifikasi secara independen.
Di Jalur Gaza, operasi militer Israel juga masih berlangsung meski sebelumnya sempat ada kesepakatan gencatan senjata pada Oktober 2025.
Laporan menyebut ratusan warga Palestina tewas sejak saat itu, sementara pembatasan bantuan kemanusiaan masih terus terjadi.




