
BicaraPlus – Di Pulau Bawean, batas antara rimba dan peradaban sering kali tampak samar. Hutan, ladang, hingga pemukiman warga berdiri berimpitan seolah menyatu tanpa sekat. Di ruang perjumpaan inilah, sosok babi kutil sering menampakkan diri, menghadirkan sebuah relasi unik yang tidak selalu berjalan mulus dengan manusia.
Bagi sebagian warga, satwa bernama latin Sus blouchi ini mungkin kerap dianggap sebagai pengganggu yang merusak jerih payah di ladang. Namun, jika kita menilik lebih dalam ke jantung ekosistem pulau, kehadiran satwa endemik ini sesungguhnya memegang peran vital yang tak tergantikan. Babi kutil Bawean adalah penghuni asli yang hanya bisa ditemukan di pulau kecil ini. Dengan populasi yang terbatas dan ruang jelajah yang kian terhimpit, interaksi dengan manusia pun menjadi pemandangan yang tak terelakkan.
Secara global, IUCN telah menetapkan babi kutil dalam kategori terancam punah (Endangered). Meski di tingkat regulasi nasional ia belum masuk dalam daftar satwa yang dilindungi, keberadaannya tetap memiliki payung perlindungan ekologis. Ia menetap di Suaka Margasatwa Pulau Bawean, sebuah kawasan yang menjadi benteng terakhir bagi Rusa Bawean sekaligus ruang hidup alami bagi sang babi kutil.
Di balik rimbunnya hutan, satwa ini bekerja dalam sunyi sebagai penggerak roda kehidupan. Saat moncongnya membalik tanah untuk mencari makan, ia sebenarnya sedang membantu mengurai serasah, mempercepat perputaran unsur hara, hingga menjadi agen penyebar biji-bijian tanaman. Proses alami inilah yang menopang regenerasi hutan Bawean. Tanpa kehadiran mereka, daya tahan ekosistem akan melemah, dan pulau mungil ini berisiko kehilangan salah satu pilar penyeimbangnya.
Namun, realitas di tepian hutan menyajikan cerita yang berbeda. Tanaman petani yang rusak dan ladang yang terobrak-abrik melahirkan keresahan yang nyata. Penting untuk dipahami bahwa satwa ini masuk ke lahan warga bukan karena niat merusak, melainkan dorongan naluri bertahan hidup di ruang yang semakin sesak. Konflik ini muncul bukan karena ada pihak yang salah, melainkan karena kebutuhan manusia dan satwa bertemu di titik yang sama.
Menyikapi hal ini, Balai Besar KSDA Jawa Timur memandang konservasi bukan sebagai upaya memagari hutan dari manusia, melainkan sebuah kerja kolaboratif. Suaka Margasatwa Pulau Bawean adalah jantung ekosistem yang harus dirawat bersama melalui dialog dan pendekatan yang adaptif. Harapannya jelas: kesejahteraan masyarakat tetap terjaga tanpa harus mengorbankan ruang hidup satwa liar.
Kepala Balai Besar KSDA Jawa Timur, Nur Patria Kurniawan, menekankan bahwa kunci dari persoalan ini adalah kebijakan yang humanis dan penuh empati. Menurutnya, memahami keresahan masyarakat yang menganggap babi kutil sebagai hama adalah langkah awal yang penting. Mengubah cara pandang tidak bisa dilakukan secara instan, terutama karena dampak ekologis dari hilangnya satwa ini sering kali tidak langsung dirasakan secara kasatmata. Oleh karena itu, tugas konservasi adalah menjelaskan peran penting mereka bagi alam secara bijaksana.
Pendekatan yang dilakukan pun harus menghargai nilai-nilai sosial dan tradisi yang telah lama hidup di tengah masyarakat Bawean. Membangun pemahaman bersama bahwa menjaga satwa liar berarti menjaga keberlanjutan hidup di pulau tersebut menjadi misi utama yang terus diupayakan dengan rasa hormat.
Bawean sendiri adalah rumah bagi banyak nyawa, mulai dari Rusa Bawean yang ikonik hingga berbagai jenis burung dan reptil yang saling terhubung dalam rantai kehidupan. Mengingat ekosistem pulau secara alami lebih rapuh dibanding daratan besar, guncangan pada satu bagian akan dirasakan oleh seluruh penghuninya.
Ke depan, upaya konservasi di Bawean akan difokuskan pada keseimbangan yang presisi. Mulai dari penataan ruang, praktik pertanian yang adaptif, hingga penelitian berbasis data menjadi fondasi kebijakan yang diambil. Kolaborasi dengan pemerintah desa, tokoh agama, hingga akademisi diharapkan mampu menumbuhkan rasa memiliki yang sama terhadap kekayaan alam ini.
Pada akhirnya, menyelamatkan babi kutil bukan hanya soal melindungi satu spesies. Ini adalah ikhtiar untuk menjaga alur air, menahan erosi, dan memastikan Pulau Bawean tetap menjadi tempat yang layak huni bagi generasi mendatang. Suaka Margasatwa Pulau Bawean hadir untuk mengajak kita semua menyadari bahwa konservasi selalu membutuhkan empati, kebijaksanaan, dan keberanian untuk berjalan beriringan.





