
BicaraPlus – Penantian panjang para penggemar akhirnya terbayar. Film terbaru karya sutradara legendaris James Cameron, Avatar: Fire and Ash, resmi tayang di bioskop Indonesia mulai hari ini. Film ini menjadi kelanjutan epik dari semesta Avatar sekaligus disebut sebagai bab paling emosional, gelap, dan kompleks dalam saga Pandora.
Sejak kemunculan perdananya pada 2009, Avatar mencetak sejarah sebagai film terlaris sepanjang masa dengan pendapatan lebih dari US$2,9 miliar. Kesuksesan tersebut berlanjut lewat Avatar: The Way of Water (2022) yang meraih US$2,3 miliar dan memenangkan Oscar untuk Best Visual Effects. Kini, Avatar: Fire and Ash membawa penonton ke fase baru yang lebih intens bukan hanya soal peperangan, tetapi juga luka, kehilangan, dan pilihan moral.
Kisah Avatar: Fire and Ash berlatar beberapa minggu setelah peristiwa The Way of Water. Keluarga Sully masih menetap bersama klan Metkayina, berusaha bertahan di tengah duka mendalam atas kematian Neteyam. Jake Sully, Neytiri, Lo’ak, Kiri, Tuk, Spider masing-masing menghadapi kehilangan dengan cara yang berbeda.
Ketegangan meningkat saat keberadaan Spider dianggap membahayakan. Pertemuan dengan Klan Tlalim atau Wind Traders mendorong Jake dan keluarganya mengambil keputusan besar: mengantar Spider kembali ke High Camp. Namun perjalanan tersebut justru membuka konflik baru yang jauh lebih berbahaya.
Mereka diserang oleh Klan Mangkwan, yang dikenal sebagai Ash People, kelompok Na’vi yang berubah drastis setelah letusan gunung berapi menghancurkan tanah leluhur mereka. Dipimpin oleh sosok karismatik namun kelam bernama Varang, Ash People menyimpan amarah mendalam dan menyalahkan Eywa atas penderitaan mereka.
Di saat bersamaan, Resources Development Administration (RDA) musuh lama Pandora mulai menyusun strategi baru untuk melancarkan serangan berikutnya.
James Cameron: Ini Film tentang Keluarga di Tengah Perang

James Cameron menyebut Avatar: Fire and Ash sebagai refleksi paling personal dalam saga ini. “Ini adalah film tentang keluarga dan makna berjuang dalam perang. Tentang anak-anak yang tumbuh di medan konflik, dan orang tua yang harus belajar mempercayai pilihan anaknya,” ujar Cameron.
Karakter Jake Sully mengalami perubahan signifikan. Kehilangan anak membuatnya semakin protektif, bahkan nyaris otoriter. Ia memilih kembali ke medan perang sebagai bentuk pelarian dari rasa bersalah dan duka.
Sam Worthington, pemeran Jake Sully, menegaskan konflik batin tersebut menjadi inti cerita.“Baginya, perang terasa seperti satu-satunya cara bertahan. Retakan dalam keluarga dan tekanan dari dunia luar menjadi fokus emosional film ini,” ujarnya.
Dengan visual revolusioner, konflik moral yang lebih tajam, serta eksplorasi sisi gelap Pandora, Avatar: Fire and Ash bukan sekadar tontonan spektakuler melainkan kisah tentang kehilangan, amarah, dan harapan di tengah kehancuran.





