
BicaraPlus – Rencana Amerika Serikat memblokade Selat Hormuz memicu kekhawatiran eskalasi konflik dengan Iran. Langkah ini dinilai berisiko memicu aksi balasan dan memperburuk situasi yang sudah tegang.
Presiden AS Donald Trump mengumumkan melalui media sosial bahwa Angkatan Laut AS akan mulai memblokade kapal yang masuk dan keluar Selat Hormuz.
Namun, Komando Pusat AS (CENTCOM) kemudian menjelaskan bahwa blokade hanya berlaku bagi kapal yang menuju atau berasal dari Iran, termasuk pelabuhan di Teluk Arab dan Teluk Oman. Kebijakan ini mulai berlaku pada 13 April.
Trump juga menegaskan bahwa kapal yang membayar biaya transit ke Iran tetap akan dicegat, bahkan jika berada di perairan internasional.
Langkah ini disebut sebagai upaya menekan Iran agar menghentikan penutupan Selat Hormuz—jalur strategis yang dilalui sekitar 20% pasokan minyak dunia. Jika berhasil, kebijakan ini berpotensi membuka kembali jalur perdagangan dan menurunkan harga minyak global.
Namun, sejumlah ahli menilai kebijakan tersebut sangat berisiko. Mantan pejabat Pentagon, Dana Stroul, mengatakan blokade bukan langkah sederhana.
“Ini adalah tugas yang sangat sulit dan tidak mungkin berkelanjutan dalam jangka menengah hingga panjang,” ujarnya.
Kekhawatiran juga datang dari potensi balasan Iran. Mantan Kepala Operasi Angkatan Laut AS, Gary Roughead, memperingatkan bahwa Teheran kemungkinan akan merespons.
“Saya benar-benar percaya Iran akan memberikan semacam tanggapan,” katanya.
Sejumlah analis menilai Iran bisa menyerang kapal di kawasan tersebut atau menargetkan infrastruktur negara tetangga seperti Arab Saudi.
Sejak konflik memanas pada akhir Februari, harga minyak dunia disebut telah melonjak hingga sekitar 50%. Trump sendiri mengakui harga bensin di AS bisa tetap tinggi hingga pemilu paruh waktu November mendatang.
Sementara itu, Senator AS Mark Warner meragukan efektivitas strategi tersebut. Ia menilai Iran masih memiliki berbagai cara untuk mengganggu pelayaran, termasuk menggunakan kapal cepat atau memasang ranjau.
Di sisi lain, Garda Revolusi Iran memperingatkan bahwa kehadiran kapal militer asing di Selat Hormuz dapat dianggap sebagai pelanggaran gencatan senjata dan akan ditindak.
Meski tekanan militer meningkat, para pengamat menilai penyelesaian konflik tetap membutuhkan jalur diplomasi jangka panjang.





