
Bicaraplus – Transformasi inklusi keuangan nasional terus bergerak menuju fase yang lebih matang. Tidak hanya membuka akses layanan finansial, tetapi juga menghadirkan instrumen investasi yang memberikan dampak sosial nyata. Menjawab momentum tersebut, Amartha resmi meluncurkan Amartha Prosper, solusi investasi berbasis dampak (impact investment) yang menghubungkan investor dengan pertumbuhan UMKM, khususnya perempuan pengusaha ultra mikro di wilayah perdesaan.
Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan tingkat inklusi keuangan Indonesia telah mencapai 80,5 persen pada 2025. Angka ini mencerminkan meningkatnya penetrasi layanan keuangan digital, termasuk fintech yang mampu menjangkau segmen UMKM akar rumput. Di tengah perkembangan tersebut, kebutuhan investor juga bergeser—tidak hanya mengejar imbal hasil, tetapi juga mempertimbangkan dampak sosial dan keberlanjutan.
Melalui Amartha Prosper yang terintegrasi dalam aplikasi Amartha, investor dapat memperoleh potensi imbal hasil kompetitif sekaligus berkontribusi langsung pada penguatan ekonomi komunitas. Chief Funding Officer Amartha, Julie Fauzie, menegaskan bahwa Prosper dirancang sebagai langkah strategis jangka panjang dalam memperluas akses investasi berdampak yang terukur dan bertanggung jawab, sekaligus memperkuat sektor UMKM produktif di Indonesia.
Salah satu instrumen utama dalam Prosper adalah Amartha Prosper Grassroots Growth Series (GGS) yang memungkinkan investor menyalurkan dana ke UMKM mitra Amartha dengan sebaran geografis dan sektor usaha yang luas. Diversifikasi ini memberikan eksposur portofolio yang lebih merata dengan risiko yang lebih terukur.
Produk Amartha Prosper menawarkan potensi imbal hasil hingga 14 persen melalui empat profil investasi, yaitu:
- Balanced-Flex, imbal hasil bulanan fleksibel
- Balanced, relatif stabil terhadap kondisi ekonomi
- Progressive, potensi pertumbuhan lebih tinggi
- Dynamic, potensi imbal hasil tertinggi dengan risiko lebih besar
Selama 16 tahun beroperasi, Amartha telah menyalurkan lebih dari Rp37 triliun permodalan kepada lebih dari 3,7 juta perempuan pelaku UMKM di lebih dari 50 ribu desa. Kepercayaan juga datang dari lebih dari 320 ribu lender ritel terdaftar. Dampaknya, sepanjang 2024 mitra UMKM Amartha berhasil menciptakan lebih dari 110.000 lapangan kerja baru.
Investasi Berdampak Semakin Relevan
Tren global menunjukkan investasi berbasis tujuan semakin menjadi pilihan. Laporan Global Impact Investing Network (GIIN) 2025 mencatat sekitar 31 persen investor berencana meningkatkan investasi berdampak di Asia Tenggara dalam lima tahun ke depan.
Certified Financial Planner Melvin Mumpuni menilai investasi berdampak kini menjadi bagian penting dalam strategi diversifikasi portofolio pendapatan tetap. Investor tidak hanya mempertimbangkan return finansial, tetapi juga transparansi, manajemen risiko, serta dampak sosial yang terukur.
Pendekatan impact investing juga membawa manfaat nyata bagi pelaku UMKM. Salah satunya dirasakan oleh Kamila, pelaku usaha kuliner di Kalimantan Selatan, yang mampu meningkatkan kapasitas produksi dan pendapatan keluarga setelah mendapatkan akses pendanaan.
Sebagai bagian dari penguatan dampak sosial, Amartha juga menghadirkan program “Cerita Rasa by Amartha Prosper”, kompetisi memasak yang melibatkan lebih dari 1.000 ibu mitra di berbagai wilayah Indonesia. Program ini menjadi bukti bahwa akses pendanaan tidak hanya mendorong pertumbuhan usaha, tetapi juga menjaga keberlanjutan ekonomi keluarga dan sistem pangan lokal.
Ke depan, Amartha menargetkan Prosper menjadi jembatan antara investor dan pertumbuhan ekonomi komunitas secara berkelanjutan. Dengan tata kelola yang kuat serta fokus pada UMKM perdesaan, Prosper diharapkan dapat memberikan kontribusi lebih besar terhadap pertumbuhan ekonomi nasional yang inklusif.





