
BicaraPlus – Kelompok kriminal di Asia Tenggara kini memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (AI) berbiaya rendah untuk memperluas jangkauan penipuan mereka. Teknologi ini membuat modus penipuan semakin canggih, meyakinkan, dan sulit dideteksi.
Dulu, banyak penipuan relatif mudah dikenali. Mulai dari iklan rekrutmen online sederhana hingga skenario penipuan berkedok percintaan atau investasi. Namun sekarang, AI memungkinkan pelaku membuat konten yang tampak lebih realistis dan profesional.
“Keefektifan aplikasi AI di pusat-pusat penipuan sangat jelas,” kata Neal Jetton, Kepala Unit Kejahatan Siber Interpol di Singapura. Menurutnya, AI dipakai untuk berbagai kebutuhan, mulai dari meniru suara, membuat gambar palsu, hingga membangun profil pribadi yang tampak autentik.
Salah satu perubahan paling terlihat ada pada iklan perekrutan. Stephanie Baroud, analis intelijen kriminal di unit anti-perdagangan manusia Interpol di Lyon, Prancis, mengatakan iklan semacam ini dulu sering memiliki banyak tanda mencurigakan. Kini, dengan bantuan AI, kontennya bisa dibuat tampak profesional hanya dalam hitungan detik.
Meski begitu, data pasti tentang dampak sosial dari jaringan penipuan ini masih terbatas. Banyak korban tidak melaporkan kasusnya. Namun para ahli sepakat bahwa kerugian global akibat praktik ini sangat besar dan terus meningkat.
Laporan Institut Perdamaian AS memperkirakan bahwa hingga akhir 2023, uang yang dicuri jaringan kriminal transnasional melalui perjudian ilegal dan penipuan daring bisa mencapai sekitar US$64 miliar per tahun secara global.
Peneliti Center for Strategic and International Studies, Julia Dickson, menilai penggunaan model bahasa besar membuat pesan penipuan terdengar lebih alami, bahkan dalam bahasa yang tidak dikuasai pelaku. Teknologi deepfake juga mulai digunakan untuk panggilan suara atau video palsu guna meyakinkan korban agar mentransfer uang.
Kemajuan teknologi juga mengubah peta operasi penipuan. Interpol mencatat aktivitas serupa kini muncul di Amerika, Afrika, hingga Timur Tengah. Sebagian masih terkait jaringan Asia Tenggara, sementara lainnya dijalankan kelompok lokal.
Jetton menambahkan, AI belum mengurangi praktik perdagangan manusia yang terkait industri penipuan di kawasan tersebut. Namun dalam jangka panjang, teknologi ini bisa mengurangi kebutuhan tenaga kerja pelaku kejahatan.
“Daripada menyelundupkan orang melintasi perbatasan, mereka bisa memanfaatkan AI untuk meningkatkan efisiensi,” ujarnya. Meski begitu, pusat penipuan masih membutuhkan perekrut, pengelola keuangan, hingga tenaga teknis, walau jumlah pekerja langsung diperkirakan akan berkurang seiring waktu.





