7 Miskonsepsi tentang Campak yang Masih Banyak Dipercaya: Fakta Medis yang Perlu Diketahui

Polyworking 6

Bicaraplus – Campak masih menjadi salah satu penyakit menular yang sering dianggap sepele oleh masyarakat. Padahal, menurut para ahli penyakit infeksi, campak bukan sekadar penyakit masa kecil biasa, melainkan infeksi virus yang bisa menyebabkan komplikasi serius hingga kematian, terutama pada kelompok rentan. Edukasi yang tepat menjadi kunci utama untuk mencegah penyebaran penyakit ini, termasuk melalui vaksinasi dan pemahaman fakta medis yang benar.

Salah satu anggapan yang sering muncul adalah bahwa anak pasti akan tertular jika terjadi wabah campak. Faktanya, risiko ini sangat kecil jika anak sudah mendapatkan vaksin MMR (Measles, Mumps, Rubella) sesuai jadwal. Negara dengan program imunisasi nasional yang kuat mampu menekan penyebaran campak secara signifikan. Meski begitu, kasus tetap bisa muncul akibat mobilitas global, seperti perjalanan internasional atau kedatangan wisatawan dari negara dengan tingkat vaksinasi rendah.

Banyak orang juga masih menganggap campak sebagai “ritual” alami masa kecil. Pandangan ini berbahaya karena campak dapat menyebabkan komplikasi serius seperti pneumonia, infeksi otak (ensefalitis), hingga kematian. Di negara maju, sekitar 10% kasus campak membutuhkan perawatan rumah sakit. Sementara di negara berkembang, angka kematian bisa mencapai 5–10% akibat keterbatasan akses kesehatan dan masalah gizi.

Campak bukan hanya penyakit anak-anak. Orang dewasa yang belum pernah terinfeksi atau belum divaksin tetap berisiko tertular, bahkan cenderung mengalami gejala lebih berat. Virus campak sangat menular. Jika seseorang tanpa imunitas berada di ruangan yang sama dengan penderita, risiko tertular bisa mencapai 90%.

Kesalahpahaman lain adalah vaksinasi dianggap tidak penting jika kasus campak jarang terjadi. Justru vaksinasi menjadi alasan utama mengapa kasus bisa ditekan. Dua dosis vaksin MMR terbukti sangat efektif, dengan tingkat perlindungan mencapai sekitar 97%. Kalaupun seseorang tetap tertular setelah vaksinasi, biasanya gejala jauh lebih ringan.

Banyak orang dewasa juga berpikir sudah terlambat untuk vaksinasi. Padahal, orang dewasa tetap bisa mendapatkan vaksin MMR, terutama jika tidak memiliki riwayat vaksin atau riwayat pernah terinfeksi campak sebelumnya. Konsultasi dengan dokter dapat membantu menentukan kebutuhan vaksinasi.

Menghindari orang yang terlihat sakit saja juga tidak cukup. Virus campak bisa menyebar melalui udara, batuk, bersin, bahkan bertahan di udara dan permukaan hingga dua jam. Lebih berbahaya lagi, penderita sudah bisa menularkan virus beberapa hari sebelum gejala muncul.

Jika seseorang baru terpapar virus campak dan belum memiliki imunitas, vaksin MMR masih bisa membantu jika diberikan dalam waktu 72 jam setelah paparan. Meski belum ada obat khusus untuk campak, perawatan suportif seperti istirahat cukup, hidrasi, dan isolasi sangat penting untuk mencegah penularan lebih lanjut.

Jika muncul gejala seperti demam, ruam merah pada kulit, batuk, pilek, dan mata merah, segera konsultasikan ke dokter. Menggunakan masker dan membatasi kontak dengan orang lain juga menjadi langkah penting untuk mencegah penyebaran virus.

Kesadaran terhadap pentingnya vaksinasi dan pemahaman fakta medis yang benar menjadi fondasi utama dalam melindungi diri, keluarga, dan masyarakat dari ancaman campak yang masih ada hingga saat ini.

Bagikan